Teguran ketika Menyetir
Menyetir di Belanda. Suatu pengalaman yang lumayan membawa hikmah buatku.
Untuk pertama kalinya aku menyetir di LN dan langsung jarak jauh(keluar kota & negeri), membuat aku deg2an setengah mati*hiperbola dey..cukup deg2an aja kok;p*. Selain karena berbeda posisi menyetirnya(dari setir kanan jadi kiri), juga aku kurang paham dgn rambu2 lalu lintas di sini. Namun berhubung SIM suamiku udah kadaluarsa jadilah aku yang hrs berada dibelakang kemudi dan suami yang menjadi navigator.
Ketakutanku saat itu adalah jika kena tilang ataupun terjadi kecelakaan~nauzubillahminzalik. Maklum, selama di Indonesia aku menyetir mobil paling jauh ke Bogor/Puncak. Sedangkan acara jalan2 kemarin jarak yg ditempuh sama aja kayak dari Jakarta-Kudus bolak-balik. Kebayang kan betapa jauhnya. Tapi dengan modal do’a dan pengawasan dari sang suami, aku beranikan diri tuk nyetir demi mencoba pengalaman jalan2 dgn naik mobil.
Aku bersyukur banget karena kami mempunyai GPS navigator, karena kami yang selama ini kalau bepergian menggunakan kendaraan umum, udah tentu sangat tidak mengerti rute mana yang harus kami ambil untuk menuju ke tempat tujuan. Rencana awal mau menggunakan peta, tapi mengingat bahwa kondisi lalu lintas di sini berbeda sekali dgn di Indonesia. Dimana kalau di Belanda ada beberapa area yang hanya boleh dilintasi oleh kendaraan umum atau jalan satu arah,dll. Sedangkan bila menggunakan peta, kami tidak akan tahu area mana yg tidak boleh dilintasi. Kebetulan pula ada PDA nganggur yg bisa digunakan sbg GPS navigator, maka kami memutuskan tuk memakai sarana tsb.
Acara jalan2 naik mobilpun akhirnya dimulai dgn aku sebagai pengemudi, mas indra sebagai pengawas, GPS sebagai navigator dan zhavar sebagai ‘bos kecil’. Dari awal perjalanan aku sangat berhati2. Aku liat kanan kiri depan belakang. Aku selalu mengikuti peraturan lalu lintas yang terpampang di depanku. Bila harus berkecepatan 50km, maka aku akan melaju dgn kecepatan tsb atau bahkan di bawah kecepatan itu. Aku mengikuti aturan tuk melaju di lajur kanan bila dalam kecepatan standar, sehingga jalur kiri yang diperuntukkan tuk mobil yg berkecepatan tinggi ataupun mobil yg ingin menyalip bebas haluan. Mas indra yang bertugas tuk memonitor caraku menyetir juga sedikit2 berkomentar "kurangi kecepatan schat, itu udah hampir kecepatan max.loh" atau "terlalu ke kanan schat, nanti nyenggol mobil sebelah loh" dan masih banyak celetukan2 pengingat lainnya.
Selama perjalanan tsb, mobil2 disekitarku juga mengikuti aturan lalu lintas. Kendaraan2 besar seperti truk/bis pasti semua berada di jalur kanan. Bahu jalan yang diperuntukkan khusus untuk keadaan darurat juga tidak pernah digunakan oleh pengendara lain sebagai fasilitas tuk menyalip. Bila ada tandanya untuk mengurangi kecepatan, maka otomatis mereka mengurangi laju kendaraan mereka. Patuhnya para pengendara mobil tsb, membuat perjalanan kami menuju ke tempat tujuan lancar tanpa ada halangan. Meskipun demikian, aku yang masih merasa kagok menyetir di LN ini merasa tetap was2 dan deg2an. Pokoknya jangan sampai terjadi suatu hal yg tidak diinginkan. Di tilangpun jangan sampai deh. Karena dendanya besar. Setiap melewati kantor polisi atau ada mobil polisi lewat, meskipun aku ga berbuat salah tapi hatiku deg2an karena takut salah nyetirnya, takut ga ngikutin peraturan setempat,dll. Perjalanan yang memakan waktu 4 jam lebih itu memang tidak terlalu lama. Tapi dikarenakan aku selalu dalam kondisi tegang, maka tak pelak beberapa anggota badanku pun terasa pegal2. Namun rasa pegal2ku hilang dalam sekejap ketika melihat suamiku dan anakku dalam keadaan sehat dan kami bertiga selamat sampai tujuan.
Keesokan harinya, mental menyetirku sudah lebih baik dibanding kemarin. Urusan menyetirpun sudah tidak kagok2 lagi. Aku sudah mulai bisa beradaptasi dengan posisi setir di kiri. Aku sudah bisa mengira2 dalam memposisikan mobil sehingga tidak terlalu ke kanan atupun ke kiri. Mas indra, suamiku, jg masih tetap mengingatkanku akan rambu2 lalu lintas yg sedang kami lewati.
Layaknya sifat manusia, ketika sudah merasa mahir akupun kadang2 suka tidak menggubris rambu lalu lintas yg berlaku. Rasa takut akan ditilang polisipun berkurang. Rasa deg2an pelan2 sirna. Merasa sudah mengenal lapangan, aku beberapa kali tidak mengikuti rambu lalu lintas. Sampai celetukan pengingat dari suamiku pun aku jawab dgn enteng "kan cuma lebih 5km mas, ga apa2 kok, lagian ga ada polisi ato sensor kecepatan di area ini mas." Tak lama kemudian, cuaca yang tadinya cerah tiba2 berubah menjadi hujan deras. Sangking derasnya aku sampai tidak bisa melihat kondisi di depan jalanan. Padahal wiper kaca sudah aku pasang maksimal. Mobilkupun yang saat itu melaju kencang berasa goyang, karena jalanan yang licin. Astagfirullah, sebutku dalam hati. Langsung hatiku berdebar2. Deg2an banget. Aku takut kalau terjadi sesuatu pada kami. Suamiku jg sadar akan situasi itu, maka ia menyuruh aku mengurangi kecepatan. Meskipun hatiku deg2an setengah mati tapi aku tetap berlagak cool di depan suamiku. Padahal dalam hati aku berucap ‘Ya Allah, Maafkan aku ya Allah. Lindungilah kami ya Allah’. Mentalku yang tadinya setinggi langit kembali mengkerut. Mengecil karena teguran-Nya. Aku kembali mengikuti rambu2 yg berlaku dan kembali berhati2.
Kembali teringat saat awal aku menyetir. Penuh kehati2an. Was2 dan taat aturan. Ketika sudah terbiasa dan tidak mengalami masalah apapun, tidak ada aral melintang, justru diriku mulai seenaknya dan semauku saja. Mungkin keseharianku begini juga? pikirku dalam hati. Aku selama ini selalu mendapat nikmat yg berlimpah dari-Nya. Aku belum pernah mengalami kesusahan yg berarti. Jalan yang kulalui begitu mulus. Lalu aku lupa pada-Nya. Lalai dalam menjalani perintah-Nya. Aku menjadi sombong & angkuh. Hingga suatu saat nanti, aku akan ditegur-Nya. Nauzubillahminzalik. Jangan sampai deh. Astagfirullah. Maaf kan aku ya Allah. Rasanya malu mengingat aku lebih takut ditilang oleh polisi Belanda, dibandingkan ditegur oleh-Nya. Ya Allah, mudah2an iman & taqwaku kepada-Mu selalu bertambah.






