• banner copy
  • ..potret senaz :: coretan bulan Ramadhan

    October 7, 2006

    15 Ramadhan ~ Ramadhan Dimana Saja

    Tersimpan di kategori: coretan bulan Ramadhan

    Semua orang pasti rindu dengan kampung halamannya. Apalagi pada saat bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran, dimana sudah merupakan suatu kebiasaan atau tradisi di negara kita(Indonesia tercinta) untuk berkumpul dengan sanak saudara di tanah asal kita. Aku sendiri juga merasakan hal yang sama. Beberapa bulan mendekati bulan suci ini, selalu terngiang dipikiranku betapa bahagianya bila aku bisa melalui bulan penuh hikmah ini bersama keluarga di negara tercinta.

    …tahun lalu terasa begitu gundul dan gersang dibulan Ramadhan…

    Tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya aku merasakan harus menjalankan bulan puasa di negeri kincir angin, negeri tulip, negeri yang tidak beragama, negeri yang bebas dalam arti sebebas-bebasnya inilah aku merasakan semangat Ramadhanku turun. Entah mengapa. Mungkin karena aku home sick alias rindu kampung halaman terutama keluarga, rindu dengan suasana bulan Ramadhan yang begitu berapi-api dapat terlihat diseluruh pelosok tanah air atau rindu siraman-siraman rohani di radio, TV, bahkan sms sekalipun yang bisa kudapat tiap saat pada bulan itu. Entahlah. Tahun lalu terasa begitu gundul dan gersang yang kurasakan di bulan suci ini. Di dalam diriku sudah sebegitu dalamnya tertanam kenangan-kenangan dan suasana tiap bulan Ramadhan di tanah air yang selalu sama tiap tahunnya namun tetep membuat diri ini bergetir karena kangen dengan kedatangan bulan itu. Sehingga ketika harus menjalaninya di sini, seakan semangatku patah. Tentu saja tahun lalu tetep kujalankan ibadah-ibadah wajib pada bulan suci itu. Namun, tak lepas pula ku sering mengeluh dalam hati.

    Hari ini tak terasa, sudah dua minggu kulewati bulan Ramadhan ke-2 di sini. Apakah perasaanku tetep sama seperti dahulu? Ternyata waktu memang bisa merubah cara pandang seseorang. Bayangkan, setelah aku banding-bandingkan menjalankan bulan Ramadhan di sini bisa sama khusyuknya dengan di tanah air atau bahkan bisa lebih khidmat. Dengan segala keterbatasan yang ada di sini dalam menumbuhkan lingkungan seperti layaknya bulan Ramadhan di Indonesia, justru menambah kekhusukanku dalam beribadah. Di Indonesia semangat Ramadhan memang membara dan digaungkan oleh hampir seluruh komunitas. Dapat dilihat dari spanduk-spanduk yang bertebaran tidak hanya di Masjid-masjid, namun di semua gedung-gedung yang bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.”, dll. Tetapi, banyak pula godaan-godaan yang mengganggu kita dalam menjalankan ibadah Ramadhan sepenuhnya. Salah satu contoh adalah banyaknya tayang-tayangan sinetron yang katanya sinetron Ramadhan. Sinetron yang seharusnya mengandung hikmah, mengarahkan orang untuk berbuat kebajikan, menjalankan perintah-Nya. Namun tetap saja jam tayangnya mengganggu dan menggoda orang yang sedang menontonnya untuk lalai dalam menjalankan sholat tepat waktu. Hanya orang-orang yang kuat pendiriannya dan tidak mudah tergoda akan menjauh dari sihir layar televisi itu.

    …Allah telah memberi kemudahan bagikami…

    Sedangkan di sini, pada bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan saja aku tidak terlalu menyukai menonton TV. Bayangkan, baru saja pukul 7 malam sudah banyak iklan-iklan vulgar yang berkeliaran di layar kaca itu. Selain TV dan internet, jujur saja tidak ada hiburan lain yang bisa dinikmati kami;para perantau yang inginnya gratisan. Jadi secara otomatis pintu untuk bersenang-senang tertutup. Ternyata di sinilah keunggulan melaksanakan bulan Ramadhan secara maksimal di negeri ini yang sebelumnya atau lebih tepatnya tahun lalu aku belum menyadarinya. Bayangkan, Allah telah memberi kemudahan bagi kami;para perantau di negeri yang manusianya berakhlaq lebih rendah dari hewan sekalipun untuk tetap menjalankan ibadah Ramadhan. Belum lagi ternyata di sini juga ada perkumpulan muslim yang sangat erat persaudaraannya. Kalau melihat itu semua, tidak ada keluh kesah yang keluar lagi dari mulutku bahkan dari lubuk hatiku seperti tahun lalu. Justru, sisa 2 tahun ke depan di negara inilah aku harus menjalankan bulan Ramadhan ini sebaik-baiknya. Sehingga ketika aku balik ke kampung halaman sudah cukup mentalku untuk menepis semua godaan-godaan selama bulan-bulan Ramadhan berikutnya. InsyaAllah.

    Bukan berarti aku lebih menyukai Ramadhan di sini dibandingkan dengan di tanah air. Karena bagaimanapun, aku akan lebih memilih untuk berkumpul bersama keluarga tercinta dalam menjalankan bulan suci sekaligus dapat bersimpuh maaf pada kedua orang tua setelah sholat Idul Fitri. Namun, kusadari bahwa semangat Ramadhan sudah selayaknya dibawa dan dibangun dimana pun aku berada.

    October 5, 2006

    13 Ramadhan ~ Kegiatan blogging

    Tersimpan di kategori: coretan bulan Ramadhan

    Aku baru sadar, ternyata justru di bulan Ramadhan ini kegiatanku di rumah lebih produktif. Entah kenapa aku menjadi lebih rajin. Beres-beres rumah, menyelesaikan bacaan novel yang sudah menumpuk, ngaji, masak, dll, semua aku lakuin. Padahal biasanya selama beberapa bulan terakhir ini aku lebih ke kegiatan bermalas-malasan alias ngendon di tempat tidur melulu.

    Meskipun aku belum bisa full power seperti ketika belum hamil, tapi ini sudah merupakan peningkatan. Yang membuat aku senang adalah katanya di bulan Ramadhan ini tidur saja ibadah apalagi orang yang tidak tidur ya. InsyaAllah dapet pahala banyak nih..hihi..berharap banget deh.

    Ini juga salah satu sebab kenapa aku jarang update blog. Sebenarnya banyak banget yang bisa diceritain dan ditulis. Cuma karena tiap harinya aku melakukan banyak kegiatan, jadi tiba-tiba waktu sudah menunjukkan menjelang maghrib. Dan biasanya kalau sudah maghrib aku menghabiskan waktuku bersama suami dan si komputer jarang aku sentuh lagi. Salut juga sama temen-temen yang selalu rajin meng-update blognya, meskipun di bulan Ramadhan ini(*sambil nunjuk2 ke mba Vina ;p..mm, kayak si amel juga rajin tuh*).

    September 25, 2006

    3 Ramadhan ~ Suasana Sahur

    Tersimpan di kategori: coretan bulan Ramadhan

    Aku jadi ingat, ketika kecil hal yang paling bikin aku sebal adalah ketika papa dan mamaku membangunkanku pada saat waktu sahur. Uuuh, rasanya sebaaal sekali. Badan masih ingin berebah, mata masih ingin beristirahat setelah hampir seharian terbuka, kaki masih enggan berpisah dengan guling yang selalu setia menemaniku ketika tidur, dan anggota tubuhku yang lain yang ikut-ikutan protes. Semua enggan diajak kompromi. Kalau saja mereka bisa berbicara, mereka akan berkata “ya ampuun, kami masih capek nih!” Tapi tetap saja, meskipun aku susaaah sekali dibangunkan, orangtuaku selalu dengan sabar membangunkanku.

    Tak-tik orangtuaku saat itu adalah jika waktu subuh saat itu pukul 5 pagi, maka mereka akan bangun 2 jam sebelumnya. Dan 1 jam pertama dihabiskan untuk membangunkan aku. Tiap 5 menit pasti papaku akan masuk ke kamar, lalu menepuk-nepuk pundakku dengan halus sambil berkata “senaz sayang, bangun dong..kita sahur yuk!”. Berkali-kali beliau mengucapkan kata-kata itu sampai akhirnya terlihat diraut mukaku bahwa aku sudah mulai agak terbangun dari tidur lelapku. Setelah aku berkata “iya-iya, senaz udah bangun nih”, barulah papaku beranjak dari kamarku menuju ke area kecil yang lebih tinggi 60cm dibanding area lain di rumahku dan terletak di ujung kanan rumah kami, dimana biasanya seluruh anggota keluarga yang lain(mama, kakak dan adikku) sudah berkumpul di sana. Kami menyebutnya musholla pendopo. Tapi, seperti aku katakan di awal cerita bahwa aku termasuk anak yang susah sekali bangun pada waktu sahur. Jadi setelah aku berkata bahwa aku sudah bangun, akupun kembali merebahkan diriku ke tempat tidur dan kembali ke alam mimpi. Sekitar 10 menit kemudian, pasti papaku kembali ke kamarku membangunkan aku kembali dengan kata-kata yang sedikit berbeda ditambah dengan kata-kata “nanti ga sempet sahur loh soalnya udah keburu subuh. trus nanti di sekolah kelaperan loh.” Akhirnya akupun terbangun lagi. Dan ketika papaku meninggalkan kamarku, kembali aku merebahkan tubuhku dan tertidur. Dan 10 menit kemudian papaku akan membangunkan aku kembali dengan tangan yang sudah dibasahi air dan ditambah dengan kata-kata bahwa nabi menganjurkan kaumnya untuk bersahur dan apabila sahur mendapat barokah,dll. Sampai kira-kira hampir 1 jam barulah aku benar-benar terbangun dan beranjak dari tempat tidur. Begitulah yang selalu terjadi hampir tiap hari pada bulan puasa. Kadang-kadang acara untuk membangunkanku dikerjakan bergantian antara papa dan mamaku. Aduuuh, kalau mengingat-ingat hal itu mukaku kadang-kadang bisa merah karena malu. Dan aku menjadi semakin sadar, bahwa orang tuaku sangatlah sabar dan mencintaiku. Kalau aku punya anak seperti diriku mungkin tidak akan sesabar mereka. Huh, jadi kepingin menangis.

    Setelah agak besaran dikit, justru kegiatan sahur ini yang paling aku sukai. Aku sangat menikmati heningnya suasana pada waktu sahur. Burung-burung di dalam sangkar yang tergantung rapih di sebelah musholla pendopo, yang biasanya berkicau tiap hari, pada waktu subuh membungkamkan paruhnya. Kendaraan roda tiga dan empat yang selalu lalu lalang didepan rumahku, pagi buta itu tidak terlihat. Suara mesin jahit yang biasa terdengar dari workshop jahit mamaku yang terletak tepat di samping rumah, sunyi. Hanya sesekali terdengar suara pentungan hansip yang berbunyi “Sahur..sahur..”. Juga sayup-sayup terdengar lantunan bacaan ayat suci yang berasal dari speaker masjid dekat rumah kami. Aku merasa saat sahur suasananya sangat santai, tidak ada yang tergesa-gesa berangkat ke kantor, sekolah, kuliah,dll. Kami menggunakan kesempatan sahur untuk saling bercerita, berguyon dan sesekali papaku akan bercerita dan menutupnya dengan nasehat-nasehat yang terkandung di dalam cerita itu. Waah, indah sekali suasana sahur. Selain perut tidak kelaparan selama berpuasa, aku pun insyaAllah akan mendapat barakah dengan bersahur. Amin amin ya robbal alamin

    September 23, 2006

    1 Ramadhan ~ Niat Rahasiaku

    Tersimpan di kategori: coretan bulan Ramadhan

    Beberapa hari menjelang Ramadhan, awal bulan yang mulia itu belum dapat dipastikan. Malam menjelang 1 Ramadhan, pihak masjid mengumumkan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu dan tentu saja hari ini pertanda bahwa kami(ummat Islam) harus sudah memulai ibadah puasa dan tadi malam sudah bisa dimulai sholat tarawih.

    Tentu saja aku senang sekali bahwa Ramadhan sudah datang. Tapi dibalik rasa senangku itu, ada satu persiapan yang membuat aku deg-degan, takut aku tidak bisa mengerjakannya. Yang kumaksud bukanlah persiapanku secara fisik atau psikis. Kalau fisik, dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, ada pengecualian yang diberikan oleh Allah untuk tidak berpuasa. Sedangkan secara psikis, sudah berbulan-bulan yang lalu aku melatih diriku untuk menjalani bulan Ramadhan ini menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi yang aku maksud dengan persiapan itu adalah bagaimana aku berperan sebagai istri yang baik.

    …inilah ibadah nyataku di bulan Ramadhan

    Hampir semua teman-temanku tahu bahwa semasa aku hamil ini, aku tidak terlalu bisa berkutat di dapur. Bukannya aku tidak mau, bahkan sebelum hamil aku adalah orang yang termasuk rajin menyentuh dapur. Tidak heran bila ada yang berkomentar kalau tiap hari suamiku terlihat semakin chubby. Yaa, mungkin karena disebabkan bau bumbu-bumbu yang di dapur itulah maka aku enggan menyentuhkan kaki di daerah paling ujung di rumahku. Sedangkan bagi yang hidup di luar negeri, tentu sudah tahu bahwa untuk makan sehari-hari tidak lah mungkin bila kita(yang tinggal di luar negeri) selalu membeli makanan di luar, alias jajan. Selain mahal, ke halalannya juga perlu dipertanyakan. Lalu, jelas saja tugas memasak adalah kewajiban para istri, karena para suami sudah lelah bekerja dan memang tugas seorang istri untuk melayani suaminya. Kalau di Indonesia, dengan keadaanku seperti ini mungkin penyelesaiannya sangat mudah. Aku bisa mempekerjakan pembantu. Tapi jika hidup di luar negeri, suatu hal yang jarang sekali terjadi bila seseorang mempunyai pembantu, kecuali mungkin orang tersebut mempunyai pendapatan yang cukup besar. Jadi, tugas memasak yang selama ini aku jalani sebelum hamil, semenjak aku hamil diambil alih oleh suamiku dengan ikhlas.

    Namun, sudah dari berminggu-minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan ini aku bertekad akan memulai kewajibanku lagi sebagai seorang istri pada bulan Ramadhan. Sengaja aku tidak bilang-bilang ke suamiku tentang niatanku ini. Aku ingin dia surprise. Aku ingin suamiku memakan hasil racikanku pada waktu sahur untuk membekali dirinya selama hampir seharian berpuasa. Aku ingin suamiku melepas dahaganya setelah seharian penuh menahan lapar dan haus dengan merasakan masakanku ketika adzan maghrib berkumandang. Itu tekadku. Karena aku tidak menjalankan ibadah berpuasa, paling tidak itulah ibadah nyata yang akan aku lakukan di bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan pahala dari Allah.

    Aaah, dalam beberapa jam lagi waktu berbuka akan tiba. Sebaiknya aku mulai beranjak ke dapur jika ingin niatanku ini terlaksana.