15 Ramadhan ~ Ramadhan Dimana Saja
Semua orang pasti rindu dengan kampung halamannya. Apalagi pada saat bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran, dimana sudah merupakan suatu kebiasaan atau tradisi di negara kita(Indonesia tercinta) untuk berkumpul dengan sanak saudara di tanah asal kita. Aku sendiri juga merasakan hal yang sama. Beberapa bulan mendekati bulan suci ini, selalu terngiang dipikiranku betapa bahagianya bila aku bisa melalui bulan penuh hikmah ini bersama keluarga di negara tercinta.
Tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya aku merasakan harus menjalankan bulan puasa di negeri kincir angin, negeri tulip, negeri yang tidak beragama, negeri yang bebas dalam arti sebebas-bebasnya inilah aku merasakan semangat Ramadhanku turun. Entah mengapa. Mungkin karena aku home sick alias rindu kampung halaman terutama keluarga, rindu dengan suasana bulan Ramadhan yang begitu berapi-api dapat terlihat diseluruh pelosok tanah air atau rindu siraman-siraman rohani di radio, TV, bahkan sms sekalipun yang bisa kudapat tiap saat pada bulan itu. Entahlah. Tahun lalu terasa begitu gundul dan gersang yang kurasakan di bulan suci ini. Di dalam diriku sudah sebegitu dalamnya tertanam kenangan-kenangan dan suasana tiap bulan Ramadhan di tanah air yang selalu sama tiap tahunnya namun tetep membuat diri ini bergetir karena kangen dengan kedatangan bulan itu. Sehingga ketika harus menjalaninya di sini, seakan semangatku patah. Tentu saja tahun lalu tetep kujalankan ibadah-ibadah wajib pada bulan suci itu. Namun, tak lepas pula ku sering mengeluh dalam hati.
Hari ini tak terasa, sudah dua minggu kulewati bulan Ramadhan ke-2 di sini. Apakah perasaanku tetep sama seperti dahulu? Ternyata waktu memang bisa merubah cara pandang seseorang. Bayangkan, setelah aku banding-bandingkan menjalankan bulan Ramadhan di sini bisa sama khusyuknya dengan di tanah air atau bahkan bisa lebih khidmat. Dengan segala keterbatasan yang ada di sini dalam menumbuhkan lingkungan seperti layaknya bulan Ramadhan di Indonesia, justru menambah kekhusukanku dalam beribadah. Di Indonesia semangat Ramadhan memang membara dan digaungkan oleh hampir seluruh komunitas. Dapat dilihat dari spanduk-spanduk yang bertebaran tidak hanya di Masjid-masjid, namun di semua gedung-gedung yang bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.”, dll. Tetapi, banyak pula godaan-godaan yang mengganggu kita dalam menjalankan ibadah Ramadhan sepenuhnya. Salah satu contoh adalah banyaknya tayang-tayangan sinetron yang katanya sinetron Ramadhan. Sinetron yang seharusnya mengandung hikmah, mengarahkan orang untuk berbuat kebajikan, menjalankan perintah-Nya. Namun tetap saja jam tayangnya mengganggu dan menggoda orang yang sedang menontonnya untuk lalai dalam menjalankan sholat tepat waktu. Hanya orang-orang yang kuat pendiriannya dan tidak mudah tergoda akan menjauh dari sihir layar televisi itu.
Sedangkan di sini, pada bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan saja aku tidak terlalu menyukai menonton TV. Bayangkan, baru saja pukul 7 malam sudah banyak iklan-iklan vulgar yang berkeliaran di layar kaca itu. Selain TV dan internet, jujur saja tidak ada hiburan lain yang bisa dinikmati kami;para perantau yang inginnya gratisan. Jadi secara otomatis pintu untuk bersenang-senang tertutup. Ternyata di sinilah keunggulan melaksanakan bulan Ramadhan secara maksimal di negeri ini yang sebelumnya atau lebih tepatnya tahun lalu aku belum menyadarinya. Bayangkan, Allah telah memberi kemudahan bagi kami;para perantau di negeri yang manusianya berakhlaq lebih rendah dari hewan sekalipun untuk tetap menjalankan ibadah Ramadhan. Belum lagi ternyata di sini juga ada perkumpulan muslim yang sangat erat persaudaraannya. Kalau melihat itu semua, tidak ada keluh kesah yang keluar lagi dari mulutku bahkan dari lubuk hatiku seperti tahun lalu. Justru, sisa 2 tahun ke depan di negara inilah aku harus menjalankan bulan Ramadhan ini sebaik-baiknya. Sehingga ketika aku balik ke kampung halaman sudah cukup mentalku untuk menepis semua godaan-godaan selama bulan-bulan Ramadhan berikutnya. InsyaAllah.
Bukan berarti aku lebih menyukai Ramadhan di sini dibandingkan dengan di tanah air. Karena bagaimanapun, aku akan lebih memilih untuk berkumpul bersama keluarga tercinta dalam menjalankan bulan suci sekaligus dapat bersimpuh maaf pada kedua orang tua setelah sholat Idul Fitri. Namun, kusadari bahwa semangat Ramadhan sudah selayaknya dibawa dan dibangun dimana pun aku berada.






