Hari ke-1: Jum’at, 15 Feb’08
Persiapan Sebelum Berangkat
Pagi2 aku baru packing. Kereta api yg akan kami naiki akan berangkat jam 13.46, jadi kami masih ada waktu banyak tuk siap2. Selain packing aku jg sempetin tuk beres2 rumah bentar, supaya paling ngga pas nyampe rumah ga berantakan banget. Sementara itu, mas indra sempet pergi ke kampus dulu.
Karena hari ini Zhavar ulang taun, jadi waktu sebelum keberangkatan juga dipenuhi dengan telpon2an sama keluarga di Indonesia, yg mo ngucapin selamat ulang taun ke Zhavar. Btw, untuk cerita yg satu ini, baca cerita selengkapnya di sini ya. Dan karena telpon2an dgn keluarga udah pasti selalu lama durasinya, jadi acara packingpun agak2 terbengkalai dan menjadi last minute bgt. Ga terasa waktu udah menunjukkan jam 12. Mas indra sendiri baru sampe rumah jam setengah satuan. Akhirnya setelah secepat mungkin kami beres2 apa aja yg perlu di bawa sekaligus ngurus rumah(mati2in segala listrik & gas yg ga perlu,dll), kami pun meninggalkan rumah sekitar jam 13.00.
Sampai stasiun ga terlalu lama, karena kami pakai taksi, mengingat barang bawaan kami lumayan banyak(kecil2, tapi total ada 4 buah tas dan 1 stroller). Jadi kalau pake bis sepertinya ga efisien & malah nyampe2in kami. Padahal beda antara naek bis & taksi dari rumah ke stasiun cuma selisih 5€. Jadi, hanya dalam itungan 5-10 menit kami sudah sampai di centraal station.
Di stasiun, kami langsung menuju ke kereta yg akan kami naiki. Tanpa pikir panjang, kami langsung naik ke gerbong yg paling depan. Alhamdulillah gerbong tersebut belum terlalu rame. Jadi kami dapet tempat duduk yg bisa digunakan untuk 4 orang dgn posisi saling berhadapan, sehingga lumayan dapet space luas.
(foto: barang yg kami bawa~2 backpack & 2 postman bag)
Groningen-Rotterdam naik Nederland Spoor
Zhavar cukup bisa bergerak dgn tempat duduk yg kami tempati itu. Dia bisa jalan2 dari kursi ku ke kursi mas indra, yg letaknya berseberangan itu. Terakhir kali Zhavar menggunakan kereta api adalah ketika dia berumur 3 bulan, jadi saat Zhavar cukup excited dgn perjalanannya. Dia bener2 memperhatikan sekelilingnya. Masih ada sisa 10 menit, sebelum kereta berangkat digunakan oleh mas Indra tuk membeli roti sebagai makan siang kami.
Tak lama, setelah mas Indra kembali dari membeli roti, keretapun akhirnya meninggalkan stasiun Groningen tuk menuju Rotterdam. Ditengah perjalanan, kondektur seperti biasa memeriksa tiket para penumpang. Lalu ketika dia memeriksa tiket kami, dia berkata "menuju Rotterdam di gerbong paling depan". Hah, kami berdua langsung kaget. Pertama karena si kondektur bicara bahasa Indonesia dgn sangat fasih, kedua krn ternyata kami salah gerbong. Tapi kaget yg pertama langsung ilang, krn hal yg paling penting saat itu adalah gerbong yg salah. Duh, ternyata gerbong yg kami tempati saat itu ketika sampai di kota Gouda akan menuju ke kota lain. Jadi seharusnya ketika di stasiun Groningen tadi, kami masuknya ke gerbong yg paling belakang(sehingga ketika berangkat akan ada di posisi paling depan). Aku & mas Indra langsung memikirkan gimana caranya selama perjalanan sebelum kota Gouda, kami sudah berada di gerbong yg paling depan. Akhirnya diputuskan bahwa kami akan pindah ke gerbong paling depan ketika kereta berhenti di Gouda. Setelah kami berunding sapa bawa apa & siapa, baru kami mulai siap2in barang2 kami yg letaknya berceceran(ada yg di atas rak, di bawah kaki dan di tempat duduk). Karena hari ini adalah wiken, jadi cukup banyak juga orang yg bepergian dan kereta pun penuh. Niat kami yg tadinya mau nyicil antara gerbong yg satu ke yg satunya lagi sampai dengan ke gerbong depan kami urungkan. Dikarenakan banyaknya orang di tiap gerbong, sehingga membuat kami sulit untuk melewati mereka.
Rencanapun berubah. Kami baru akan pindah gerbong ketika kereta sampai Gouda. Waktu yg kami punya untuk ke gerbong paling depan hanya berkisar 5 menit. Waktu yg sangat singkat, bagi kami yg membawa barang banyak. Sebenernya kepergian kami ini sudah kami rencanakan agar membawa yg seperlunya saja. Namun, karena ditambah dgn membawa stroller, jd barang bawaan tetap terliat banyak. Belum lagi, ketika naik turun kereta api, Zhavar tidak bisa di taruh di dalam stroller. Jadi kalau diliat2, barang bawaan kami adalah 2 backpack, 2 postman bag, Zhavar & stroller. Alhamdulillah dgn waktu yg hanya 5 menit itu kami bisa juga pindah ke gerbong paling depan, meskipun dgn berlari2 kecil. Sama seperti gerbong sebelumnya, di sini juga penuh sesak. Untungnya ada 2 kursi kosong. Jadi kami ber3 langsung menempati kursi tsb. Dari Gouda ke Rotterdam ternyata tidak memakan waktu lama. Sehingga tak terasa, keretapun sudah sampai di Rotterdam.
Di stasiun Rotterdam, kami menunggu kereta Thalys yg masih akan berangkat kira2 1 jam lagi. Waktu jeda 1 jam itu kami pergunakan tuk nyemil2 di restoran La Place yg berlokasi di lantai 2 stasiun Rotterdam tsb. Zhavar yg selama perjalanan dari Groningen ke Rotterdam aktif, rupanya sampai juga pada masa capeknya. Ia pun tertidur ketika kami berada di resto La Place.
(foto: di restoran La Place stasiun Rotterdam)
Meskipun waktu yg cukup untuk bersantai2 di resto itu masih ada, tp kami sudah meninggalkan La Place sekitar 20 menit sebelum kereta Thalys berangkat. Karena stasiun Rotterdam saat ini lg dalam tahap renovasi. Jadi tidak seperti stasiun2 lainnya, aksesibilitas bagi yg membawa stroller ataupun wheel chair tdk ada. Alias kalau mau naik ataupun turun dari lantai tempat kereta stand by kami harus gotong2 strollernya Zhavar. Untung saja pergantian kereta dari NS ke Thalys cukup lama, jadi kami tdk perlu terburu2.
Rotterdam-Paris naik Thalys
Kereta Thalys tepat berangkat jam 17.25. Berbeda dgn kereta NS yg kami naiki sebelumnya, kereta Thalys kecepatannya lebih tinggi. Sehingga antara Rotterdam - Paris yg berjarak +/- 443 km ditempuh hanya dalam waktu 3 jam. Selain perbedaan kecepatan, di kereta ini sistemnya sama seperti pesawat terbang yg ada nomer kursinya. Kalau di NS, sistemnya sapa cepat dia dapat.
(foto: di dalam kereta Thalys)
Kebetulan kami kedapatan nomer kursi yg berhadap2an. Tapi sayangnya sebelah kami jg ada penumpang lain. Jadi tidak bisa sebebas seperti ketika di NS. Di seberang kami juga ada pasangan suami istri. Mereka berdua orang Inggris yg sedang berlibur ke Paris dan Amsterdam. Selama perjalanan sang suami sering sekali mengajak Zhavar main. Zhavar yg saat itu sudah mulai jenuh, karena kelamaan naik kereta pun sedikit terhibur. Meskipun demikian, dikarenakan waktu yg masih lama untuk sampai di Paris, maka Zhavarpun sempat cranky(rewel). Sepertinya dia bosan, capek, laper, haus, semua bercampur aduk. Ketika Zhavar rewel ini, aku dan mas indra bertugas tuk gantian ngajak main Zhavar di area kosong antara gerbong yg satu dgn yg lainnya. Karena sedari awal perjalanan mas indra udah ngurus Zhavar maka tiba giliranku.
Aku mencoba menidurkan Zhavar dgn menyenandungkan surat2 Juz’amma. Tapi tidak berhasil juga. Zhavar sepertinya tidak ngantuk dan enggan untuk tidur. Akhirnya aku ajak dia tuk jalan2 sekitar gerbong itu. Tapi itu tidak bertahan lama. Karena aku keburu pusing2 duluan. Langsung aja aku panggil mas indra untuk gantian jagain Zhavar. Dan langsung aku berebah di kursiku. Aku udah mau muntah ajah, karena kepusingan. Dan emang aku itu selalu kalau travelling bawaannya suka mabuk darat, lautan, udara*kayak iklan antimo*. Akhirnya yg jaga Zhavar selama perjalanan selalu mas indra.
Karena mas indra udah kecapekan juga, akhirnya kami ber3 menuju ke gerbong makanan. Di sana mas indra langsung mesen kopi supaya tenaganya nambah dan juga kami makan hotdog(dgn sebelumnya nanya apakah dagingnya sapi atau bukan). Di gerbong makanan, Zhavar bisa bebas teriak2 dan main2. Karena memang di gerbong itu, banyak juga orang2 yg melepas lelah dgn berjalan2 atau ngobrol2. Setelah kami ngerasa Zhavar puas main2 di gerbong makanan tsb dan juga kami sudah kenyang, kami kembali ke tempat duduk kami.
(foto: di gerbong makanan Thalys)
Saat ini jarak menuju ke Paris semakin dekat. Zhavar kembali main2 dgn mas indra dan pria Inggris yg duduk di seberang kami. Setelah Zhavar bosen dgn segala mainan yg dia mainin di tempat duduk, akhirnya Zhavar di bawa kembali oleh mas Indra ke area antara gerbong yg satu dgn yg lainnya. Sampai akhirnya beberapa menit sebelum sampai di Paris, baru kami kembali ke kursi kami dan beres2in segala barang bawaan kami. Dan pada pukul 20.35 kami pun sampai di Gare du Nord Paris.
(foto: mejeng depan Thalys setelah sampai di Paris)
Check-in @ Mercure Hotel Porte de Pantin Paris
Sebelum kami menuju ke Hotel tempat kami menginap, kami ke Europcar(persewaan mobil) dulu. Kebetulan kantor Europcar letaknya di lantai bawah stasiun tempat kereta Thalys kami sampai. Jadi kami langsung ke tempat persewaan mobil tsb dan setelah mengasih kartu identitas dsb, kamipun langsung mengambil mobil yg memang sudah disediakan tuk kami.
Setelah itu, seperti biasa yg menyetir aku krn mas indra ga punya SIM Internasional. Dan juga dibantu dgn GPS, kami bertolak ke Hotel Mercure Porte de Pantin. Perjalanan menuju Hotel tidak secepat yg kami perkirakan. Karena ternyata Hotel tempat kami akan menginap tdk ada di GPS. Jadi kami musti muter2 dulu dan menerka2 kira2 di area mana hotel tsb berada. Sampai akhirnya kami memutuskan tuk menelpon hotelnya dan menanya alamat yg tepat. Dan ternyata alamat yg kami punya memang sama dgn alamat yg diberi oleh si resepsionis hotel. Tapi entah mengapa alamat tsb tdk dikenali oleh GPS. Kami yg tidak tau daerah Paris pun akhirnya memutuskan tuk menelpon lagi. Dan kata sang resepsionis kami disuruh mencoba GPS nya tuk mengacu ke daerah Porte de Pantin. Dan benar, setelah itu GPS bisa menunjukkan kami ke daerah di mana hotel itu berada.
Namun, sesampainya di sana kami masih harus dipusingkan dgn mencari2 letak pintu masuk ke hotel tsb. Sudah beberapa kali kami mengitari hotel tsb tp ga ketemu jg pintu masuknya. Kami sampe terheran2, kenapa juga hotel sekelas Mercure menempatkan akses masuk tuk mobil tidak jelas. Dan lagi2 kami harus menelpon hotel tsb. Lalu kata sang resepsionis, pintu masuknya terletak tepat disebelah hotel. Akhirnya kami menuju ke daera sebelah hotel. Dan memang ada suatu pagar tertutup yg gelap(tdk ada penerangannya) di daerah itu dan kami liat memang ada tulisannya Mercure Hotel. Setelah ketemu pintu masuk tsb, kami bengong lagi. Karena kami bingung bagaimana cara masuk ke dalam parkirannya kalau pagarnya tertutup. Akhirnya mas indra turun dari mobil dan menuju ke lobby hotel tuk menanya ke resepsionisnya. Sementara itu, aku & Zhavar bersabar menunggu di mobil yg masih aku parkirkan di depan pagar tsb. Tak lama mas indra datang. Kemudian mas indra memencet tombol yg letaknya agak jauh dari lokasi pengemudi(aku). Kemudian perlahan2 pagar itu pun terbuka lebar. Baru deh, setelah itu mobil kami bisa masuk ke dalam parkiran hotel. Proses yg cukup ribet, menurutku. Kami berdua selama mencari parkir di parkiran hotel tsb masih sibuk membahas betapa sangat tidak informatif dan efisiennya parkiran hotel tsb. Ck ck ck.
Setelah parkir mobil, kami langsung ke lobby hotel dan check-in. Dan langsung menuju ke kamar kami. Ternyata kamarnya tidak seperti yg terlihat di website hotel tsb. Kamarnya ternyata lebih kecil. Nah, ini dia salah satu trik website2 hotel yg menampakkan salah satu kamar hotel mereka menggunakan kamera wide angle sehingga kamar yg sebenernya kecil terlihat agak besar. Hmmpf. Aku yg sebenernya masih mo complain sana-sini langsung diredakan oleh mas indra. Kenapa aku nafsu bgt tuk complain? Karena kali ini yg bertuga tuk booking hotel adalah aku(bukan mas indra). Jadi aku merasa bersalah aja kalau hotelnya tdk seperti harapan kami. Tapi dikarenakan lelah juga, aku pun ga terlalu ngurusin kekurangan ini & itu. Masih untung dapet kamar kosong dan bisa istirahat. Sebelum kami ber3 tertidur lelap, mas indra sempet beli pizza dulu di resto pizzeria sekitar hotel.
(foto: kamar hotel)
Hari ke-2: Sabtu, 16 Feb’08
Brunch @ cafe near Versailles Palace
Kami bangun jam 8-an. Setelah itu ga langsung siap2 tuk pergi, tapi bermalas2an dulu. Selain itu menyusun rencana tuk hari ini. Tanpa sarapan terlebih dahulu, kami keluar hotel sekitar jam 10. Rencana kami adalah sarapan di McD deket hotel, tapi karena kami udah muter 2x tuk nyari parkir disekitar McD itu tp ga dapet2 jg, akhirnya kami pun memutuskan tuk sarapan di sekitar Versailles. Karena memang, tujuan kami siang itu adalah ke istana Versailles.
Jarak antara hotel kami dgn Versailles berkisar 7 kilo-an. Ga sampe 1/2 jam kami sudah sampe di daerah Versailles. Karena Versailles memang terletak di luar kota Paris, maka tak heran layaknya daerah suburban lainnya tidak sepadat kota besar. Baik dari segi bangunannnya, maupun lalulintasnya. Selain itu tempat parkiranpun luas. Setelah kami parkir mobil, kami ga langsung masuk ke istana Versailles tapi mampir di restoran yg letaknya di sekitar istana Versailles.
(foto: di resto deket istana Versailles)
Kami makan spagetti dan kerang ijo. Hmm, enak bgt. Pantesan aja restoran ini, termasuk yg paling rame diantara beberapa deretan resotan2 lainnya di sekitar itu. Selain itu pelayan2nya juga ramah2. Zhavar diajak main terus. Jadi selama aku & mas indra makan, Zhavar ada temennya
. Zhavar juga aku kasih makan spagetti dan rotinya. Ternyata dia juga suka. Sampe ada spagetti yg jatuh ke lantai mo di makan dia juga. Sebenernya setelah makan makanan utama, aku jg tertarik dgn menu dessertnya. Sayang perutku udah kembung karenan kekenyangan. Jadi kami langsung beranjak menuju ke istana Versailles yg bisa ditempuh dgn hanya berjalan kaki beberapa puluh meter dari restoran tsb.
Chateau de Versailles
Masuk ke halaman depan istana Versailles, dihadapan kami sudah ada antrian panjang orang2 yg ingin membeli tiket masuk ke istana Versailles. Aku juga langsung ikutan ngantri. Sementara aku ngantri, mas indra & Zhavar main2 di halaman depan itu. Cuaca hari itu cukup dingin. Bahkan menurut perkiraan hari ini lebih dingin dibanding hari2 sebelumnya dan beberapa hari kemudian. Aku yg dari Groningen sudah diingatkan mas indra tuk membawa sarung tangan tuk Zhavar maupun aku sendiri, hari itu lupa membawanya. Karena sarung tangannya aku tinggal di hotel. Tanganku ga jauh2 dari kantong jaket kulitku. Sedangkan Zhavar yg belum bisa masukin tangannya ke kantong jaket kulitnya, cm bisa menahan dingin. Akhirnya dari pada Zhavar kedinginan aku oprek2 tas ku dan alhamdulillah ketemu kaos kaki cadangan tuk Zhavar. Jadi Zhavar tangannya aku pakein kaos kaki ajah.
Setelah selesai ngantri beli tiket. Ternyata kami belum bisa masuk bgitu aja. Kami masih harus antri lagi tuk masuk ke dalam istananya. Untuk masuk ke dalam istana ini kami harus melewati metal detector terlebih dahulu, dan juga barang2 bawaan harus di cek melalui sinar x-ray. Setelah lolos dari screening baru kami diperbolehkan tuk masuk ke dalam istana.
Saat pertama kali masuk, kami disambut dgn tangga yg luas dan sangat tinggi, setelah itu baru lah kami menuju ke suatu ruangan yg berisi dgn lukisan2 yg sangat besar. Tipikal dgn interior istana yg langit2nya dipenuhi oleh lukisan2 dari pelukis terkenal. Setelah melalui ruangan pertama, kami lalu diantarkan menuju ke ruangan sebelahnya yg tidak kalah indahnya dipenuhi dgn lukisan2 yg sepertinya dari keterangan di bawah lukisan tsb adalah lukisan/potret diri dari raja2 Prancis jaman dulu. Suasana ruangan yg satu dgn yg lainnya hampir sama. Terang remang2 dikarenakan penerangannya berasal dari lilin2 yg berjumlah sangat banyak(menurutku) dalam satu ruangan. Nuansa tiap ruangan di dominasi dgn warna merah marun dan emas.
Kami ber3, mengikuti arus orang2 yg pergi dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Tiap ruangan mempunyai fungsi yg berbeda2 dan sama indahnya. Dari dulu aku memang suka dgn segala sesuatu yg behubungan dgn design klasik, karena mengesankan mahal, berkelas dan kaya akan historis. Dan mungkin juga karena dari kecil oleh oran tuaku sudah dicekoki dgn design2 klasik
. Meskipun demikian, di satu sisi bila salah penggunaandari design klasik itu akan terlihat ‘menyeramkan’.
Istana Versailles ini sangatlah besar. Sehingga bagi kami yg berkunjung ke sini dgn membawa bayi, sangatlah tidak memungkinkan tuk bisa mengelilingi dan memasuki tiap ruang yg ada di Istana ini. Belum lagi, istana ini terbagi atas 4 gedung. Dimana tiap bangunan hampir sama besarnya. Sudah tentu waktu yg dibutuhkan sangat panjang. Sedangkan kami jg harus memikirkan Zhavar. Karena inti dari jalan2 ini sebenarnya adalah tuk membuat Zhavar senang.
Akhirnya kami memutuskan tuk hanya mengelilingi bangunan utamanya saja. Bahkan ada beberapa ruangan yg sepertinya juga terlewati oleh kami. Tapi yg terpenting adalah kami sempat berfoto2 di area Hall of Mirrors Chateau de Versailles, yg merupakan ruangan yg paling terkenal diantara ruangan2 lainnya. Dimana galeri yg dgn panjang 73m itu dilengkapi dgn kaca2 berukuran penuh(dari atas ke bawah) sebanyak 357 buah. Dan langit2nya dipenuhi oleh lukisan yg menggambarkan kejayaan Perancis yg dilukis oleh pelukis terkenal yg bernama Charles Le Brun.



(foto: di ruangan Hall of Mirrors)
Sedikit cerita mengenai istana Versailles adalah istana yg pertama kali didirikan oleh Louis XIII ini dahulunya tidak sebesar spt yg saat ini. Namun pada masa pemerintahan raja2 berikutnya istana ini diperluas. Selain sebagai tempat tinggal para anggota kerajaan(raja, ratu, anak2nya, keponakan2nya, sepupu2nya,dll), istana ini juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Sehingga di dalam area istana ini juga tinggal para pejabat pemerintah, abdi2nya, dll. Oleh sebab itu pada perkembangannya, istana ini terdiri dari 4 buah bangunan besar. Dan istana Versailles adalah salah satu dari istana yg terbesar di seluruh dunia. Kemudian, pada saat kepemimpinan Louis XVI lah terjadi revolusi. Di mana saat itu rakyat Prancis sedang dalam keadaan yg tidak makmur. Namun pihak kerajaan berfoya2. Konon, itu dikarenakan oleh ulah dari istri Louis XVI, yg tidak lain & tidak bukan adalah Marie Antoinette. Diperkirakan besar pengeluaran tuk keluarga kerajaan berkisar 5%-25% dari penghasilan negara. Maka tak heran bila akhirnya banyak rakyat yg memberontak dan mengumandangkan revolusi. Setelah revolusi, istana ini tidak dipergunakan lagi. Tapi sengaja di jaga kelestariannya sebagai tanda akan kejayaan negara Prancis pada masa 1800-an. Sampai saat ini pun, istana tsb masih terus dalam tahap restorasi sehingga terus terjaga.(sumber: mas indra & wikipedia)
Setelah kami mengelilingi bangunan utama, kami beranjak ke luar dari istana dan menuju ke taman belakang istana yg luasnya berhektar2 itu. Tamannya besaaar & luas banget. Dari kejauhan aja udah keliatan betapa sangat luas taman tsb. Dan ketika kami dekati tamannya, semakin terlihat lebih besar lagi. Ck ck ck. Ga sanggup deh kalau kami harus mengelilingi seluruh tamannya. Kebetulan Zhavar saat itu jg udah rewel karena ngantuk. Jadi kami tidak lama2 menghabis waktu di taman itu. Yg jelas, kalau ngeliat taman itu bagus, rapih, indah & asri.


(foto: taman Versailles)

(foto: Istana Versailles tampak belakang dari arah taman)
(foto: Mas Indra mengistirahatkan tangannya di salah satu beton pembatas jalan di area istana, krn kecapekan menggendong Zhavar yg sedang tertidur)
Karena Zhavar juga sudah tertidur ketika kami berada di taman istana. Maka, kamipun langsung menuju mobil tuk meninggalkan Versailles. Dan tujuan kami selanjutnya adalah menara Eiffel.
La Tour Eiffel
Siapa sih yg ga tau menara Eiffel? Sepertinya tiap orang yg pernah ke Paris tp belum pernah menginjakkan kakinya di menara Eiffel ato pun hanya berfoto2, sama saja belum pernah ke Paris. Istilanya kurang afdol begituu. Menara Eiffel bukan saja landmark dari kota Paris, tp juga merupakan salah satu ikon di Eropa. Kamipun memang sengaja ke Paris supaya Zhavar mempunyai foto di depan menara Eiffel
. Maka dari itu, meskipun cuaca sangat dingin kami tetap memutuskan tuk berfoto di menara Eiffel. Untungnya Zhavar selalu hangat kalau naik di strollernya.


Menara yg berdiri semenjak 100-an tahun yg lalu memang masih kokoh. Dan tidak pernah sepi pengunjung. Menurut berita, menara ini sudah berganti cat sebanyak 6 kali semasa hidupnya dikarenakan termakan usia & cuaca. Mungkin diantara kita masih banyak yg bertanya2, apa sih kehebatan menara Eiffel, sampai menjadi sangat terkenal? Apakah karena tingginya? Megahnya? Bentuknya? Ya mungkin itu semua bisa dikatakan iya semua. Tp yg membuat menara ini terkenal pertama kali adalah karena menara ini adalah sebagai simbol dari kemajuan teknologi pada masa akhir abad 19. Aku sendiri juga baru ngeh. Untung ada mbah google
.
Selesai mengelilingi area menara Eiffel, kami langsung kembali ke mobil. Dan mencari restoran di sekitar daerah itu.
Dinner @ Brasserie near Eiffel Tower
Daerah di sekitar menara Eiffel ternyata banyak sekali restoran Prancis. Akhirnya kami langsung masuk aja ke salah satu restoran tsb. Kami pesan T-bone steak sapi dan ikan yg dipanggang. Karena kami memang berniat sekalian berwisata kuliner, jadi kami ga terlalu memikirkan dgn harga makanan yg kami pesan.
Makanan yg kami pesan sekitar 20-an menit yg lalupun akhirnya datang. Porsinya gede2 banget. Mas Indra & aku yg termasuk pemakan banyak aja ngeliatnya udah berasa kenyang sendiri. Ikan yg aku pesen cukup menggiurkan penampakannya. Ikan tersebut dilengkapi dgn nasi goreng mentega. Ternyata setelah aku makan, ikannya tidak senikmat seperti yg aku bayangkan. Kalau aku bilang malah terkesan hambar. Nasinya apalg. Trus, steak yg dipesan mas Indra yg kami minta supaya di masak well done alias matang, ternyata masih ada darah2nya. Dengan kata lain, setengah matang. Huaaa, pokoknya untuk kali ini makanan pilihan kami kurang sukses. Uang yg kami keluarkan tuk membayar makanan tsb pun berasa jd sayaaang bgt tuk dikeluarin krn ketidak puasan kami terhadap makanan yg disajikan. Yaa, apa boleh buat. Namanya jg coba2. Musti ada pengorbanan. Tapi menurut info nih, makanan Prancis memang dimasaknya tdk pernah mateng(dagingnya). Dan itu memang ciri khas mereka. Huhuuuhu. Kalo aku sih ga suka ya.
(foto: makan di Brasserie deket Eiffel)
Setelah makan malam, kami langsung pulang ke hotel. Dan seperti biasa tepaaar.
Hari ke-3: Minggu, 17 Feb’08
Tragedi Pagi Hari
Hari ini kami bangun jam 8-an lagi. Kalo kemaren setelah bangun masih males2an, sekarang agak mendingan ga perlu leyeh2 lagi. Karena tadi malam, kami tidurnya lebih cepat. Kami keluar hotel sekitar jam 10. Sama seperti kemarin, kami keluar kamar hotel menuju ke tempat parkir mobil yg letaknya di basement. Setelah itu seperti biasa tuk keluar dari parkiran Hotel, kami harus memasukkan kartu kamar hotel ke dalam tempat yg disediakan, supaya nanti sensornya membaca dan pintu garasi basementpun terbuka.
(foto: mobil sewaan Renault Megane)
Lalu setelah aku memasukkan kartu kamar hotel, pintu garasipun terbuka. Dan ketika pintu tsb terbuka, aku langsung kemudikan mobil tuk keluar dari basement. Tapi baruu aja 1/4 jalan, tiba2 pintu garasinya sudah kembali menutup. Wah, langsung aja aku kaget dan buru2 mundur. Karena aku takut mobilnya kena pintu garasi. Apalg ini bukan mobil pribadi, melainkan mobil sewaan. Saat itu aku bener2 deg2an. Mas indra yg berada di sampingku jg heran. Kok pintu garasinya cepet bgt nutupnya. Padahal kemaren ga seperti itu. Akhirnya aku coba lagi memasukkan kartu kamar hotel. Dan pintunya terbuka. Ketika pintu garasi dalam proses membuka, aku perlahan2 maju. Supaya ketika sudah terbuka full, aku tinggal beberapa langkah lagi menuju keluar. Jadi intinya nyicil, daripada nanti pintunya ketutup lagi. Eh, mgkn karena akunya yg terburu2 ato mgkn jg karena deg2an takut pintunya ketutup lagi dan mengenai mobil, aku nyetirnya jd ga fokus dan kurang hati2. Bukannya mobil yg kami tumpangi keluar dgn selamat dan bebas dari lecet, tp spion kanannya patah karena aku menabrak pintu pagar. Hwaaa, saat itu jantungku berdegub kenceng bgt. Kaca spion kanan yg tadinya masih dlm keadaan bagus, berubah menjadi oglek2. Uuuh, bener2 suatu awal yg kurang bagus.
(foto: spion rusak yg aku ikat biar ga oglek2)
Brunch @ d nearest McD from Hotel
Setelah keluar dari parkiran hotel dgn mobil yg salah satu kaca spionnya oglek2an, kami langsung menuju ke McD deket hotel tuk sarapan sekaligus makan siang. Selama di jalan, karena kejadian tadi, kami berdua bete. Pokoknya ya jadi ga seceria hari kemarin deh. Trus pas udah sampe di McD, aku drop mas indra tuk beli McDnya sedangkan aku cari parkir. Di parkiran selama nunggu mas Indra balik ke mobil, aku coba utak-atik spionnya. Untung banget motornya masih bekerja. Jadi yg rusak cuma rumahnya aja. Kaca jg masih bagus, ga pecah. Karena oglek2an itu, aku mencoba gmn supaya spionnya bisa berdiri lagi supaya aku masih bisa ngegunain tuk ngeliat ke kanan jalan. Aku cari2 di mobil kira2 ada ga tali atau apa kek yg bisa ngiket spionnya. Tapi sayangnya ga ada. Trus aku inget kalo ikat pinggang yg aku pake hampir sama kyk tali rapiah. Ya udah, aku pake ajah tuk ngiket spion. Dan berhasil.
Pas mas indra sampe di mobil, dia sempet heran kok spionnya bisa berdiri lagi. Trus dia ngeliat ada ikat pinggangku di spionnya, langsung deh dia ketawa. Setelah itu, kami lumayan udah lupa dgn kejadian mengesalkan tadi pagi. Dan kami langsung menuju ke Louvre.
Louvre
Kami sampai di parkiran Louvre tidak langsung turun, melainkan menyantap McD yg sebelumnya kami beli. Ternyata di parkiran itu, tdk hanya kami saja yg sedang asik makan. Tapi ada juga kelruaga lain yg di dalam mobilnya bersama anak2 mereka sedang menikmati makanannya masing2. Dan memang keuntungan dari menyewa mobil adalah kami bisa menggunakannya kapan saja, dimana saja dan untuk apa saja. Setelah aku & mas indra selesai makan, aku maish harus menyusui Zhavar. Baru, sesudah itu kami langsung menuju ke Louvre.
Dulu,ketika pertama kali ke Paris aku cuma foto2 Louvre dari depan saja. Nah, kali ini kami berencana masuk ke dalam Louvre nya. Ternyata Louvre itu sangat besar. Bangunan yg sebagai gerbang masuknya pun sudah besar.



Setelah melewati bangunan tsb, di depan kami sudah ada lapangan luas yg di tengah2nya ada air mancur. Dari kejauhan sudah terlihat bentuk prisma dari atap Louvre yg terkenal itu. Melewati airmancur tsb, kami dibawa menuju ke area lain yg masih berupa lapangan luas. Dan tentu saja di area ini, atap Louvre sudah sangat terlihat dgn jelas. Semua pengunjung sibuk mencari posisi masing2 tuk mendapatkan foto yg bagus dgn si atap ini. Jumlah atap prisma ini ada 4. 3 buah ukuran kecil dan 1 buah ukuran besar. Dimana yg paling besar tsb adala sebagai tempat pintu masuk ke dalam museum Louvre.
Khusus bagi pemakai wheel chair ataupun yg membawa anak dgn stroller, mendapatkan akses tersendiri tuk memasuki museum ini. Karena kami membawa Zhavar dgn menggunakan stroller, jadi kami bisa menggunakan lift khusus. Lift tsb, bentuknya sangat unik. Bentuknya bulat, tidak masif(terbuka, tdk seperti lift pada umumnya) dan sistemnya sangat canggih(menurutku). Agak susah jg menjelaskannya. Pokoknya dari segi design dan teknologi, sangat hi-tech. Jadi tak heran, ketika kami menggunakan lift tsb, banyak orang yg matanya terpaku oleh cara kerja dari lift ini.
Keluar dari lift kami langsung ke mesin tiket. Setelah itu kami langsung menuju ke salah satu sayap bangunan museum dgn sebelumnya mengambil peta museum di meja informasi. Pertama kami ke sayap museum yg menjelaskan ttg sejarah dari museum Louvre ini. Di sayap ini kami bertemu dgn salah satu pegawai Louvre yg ternyata beragama Islam. Karena dia menyapa kami dgn "Assalamu’alaikum". Kami sempat ngobrol2 sebentar dan dia juga ngajak main Zhavar. Tak lama dia pun pamit tuk melanjutkan kerjanya.
Kemudian kami menuju ke sayap bangunan yg bernama Denon. Di mana di sayap inilah lukisan Monalisa disimpan & dipamerkan. Lukisan Monalisa yg ukurannya tdk terlalu besar itu bener2 dijaga ketat. Selain ada penjaga yg selalu siap sedia disamping lukisan itu, juga ada kaca sensor yg menjadi rumah tinggal lukisan itu. Jarak antara pengunjung dgn lukisan itupun diberti pembatas yg lumayan cukup jauh. Sehingga bagi kami agak sulit tuk menikmati lukisan itu.



Karena sudah cukup lama juga menghabiskan waktu di Louvre, akhirnya kami memutuskan tuk keluar dari museum itu dgn sebelumnya mampir beli minum di Starbucks Louvre. Lalu melanjutkan ke tujuan berikutnya. Yaitu Champs-Elysees.
Champs-Elysees & Arc de Triomph
Kami parkir mobil di tempat parkir terdekat di area Champs-Elysees. Berbeda dgn daerah perbelanjaan lain di Paris yg tutup pada hari Minggu. Khusus untuk daerah ini, hari Minggu pun toko2 pada buka. Jadi aku sempet keluar masuk toko. Tapi cuma liat2 doang
.
Tujuan utama ke Champs-Elysees emang untuk foto dgn background Arc de Triomph. Jalanan kanan-kiri Champs-Elysees cukup padat oleh para pejalan kaki. Semua menuju ke satu arah yaitu Arc de Triomph. Selama menuju ke ujung jalan, kami sempat berpapasan dgn kerumunan orang yg ternyata sedang melihat selibritis. Sepertinya selebritis itu sangat terkenal. Karena ada bodyguardnya segala. Aku yg juga mau ikutan ngeliat selebritis itu, dilarang sama mas indra. Katanya ngabis2in waktu, cuma buat nunggu ato foto dgn selebritis itu. Huuu, padahal kan lumayan tuh kalo misalkan ternyata selebritis itu adalah artis Hollywood. Kapan lagi ga siiii
. Tp terpaksa deh, demi menjadi istri yg baik akhirnya aku nurut ga ikut2an nungguin si selebritis ituh.
Selain foto dgn latar belakang Arc de Triomp, aku jg foto di gedung Loius Vuitton
. Karena belum punya tasnya. Jadi foto gedungnya juga boleh dooong.

Dinner @ KFC
Hari udah semakin gelap dan kami langsung menuju ke KFC tuk makan malam. Hmmm enaaaak. Dah lama kami ga makan KFC soalnya
. Trus setelah kenyang langsung deh pulang ke hotel. Sholat, bersih2 dan tidur.
Hari ke-4: Senin, 18 Feb’08
Check-out from Mercure Hotel Porte de Pantin Paris
Jam 10 pagi kami udah check out. Tujuan kami hari ini sebelum menuju ke stasiun tuk pulang ke Belanda adalah ke taman yg bernama les bois boulogne. Menurut website sih patut tuk dikunjungi. Dan dalam perjalanan kami menuju ke taman itu, ternyata aku sadar bahwa kaca mata hitamku ketinggalan di kamar hotel. Jadi kami balik lagi ke Hotel. Alhamdulillah kacamatanya masih ada. Dan kami kembali menuju ke taman itu.
les bois de boulogne Garden
Sayang sekali setelah berkali2 melewati tempat yg ditunjukkan GPS, kami tdk menemukan taman itu. Sampe akunya kecapean muter2, akhirnya kami memutuskan tuk jalan2 aja ke area La Defence. Di mana di situ ada suatu bangunan perkantoran yg terkenal dikalangan para arsitek. Tapi kami ga sempet foto, karena kami cuma ngelewatin doang. Jadi ga pake berenti segala.
Waktu udah menunjukkan jam 12.00. Sedangkan kereta Thalys akan berangkat jam 15.25. Jadi kami langsung menuju Gare du Nord. Dalam perjalan ke stasiun, kami justru menemukan taman itu. Tapi ya karena waktunya udah mepet, jadi kami cuma ngelewatin taman itu saja. Tanpa bisa berenti tuk jalan2 di taman atopun foto2 di situ
.
Gare du Nord Paris
Sampai stasiun kami mengembalikan mobil ke tempat persewaan mobil. Untung kami menggunakan asuransi. Sehingga, spion yg rusak ter cover biayanya. Lalu kami menaruh barang2 kami di loker stasiun. Baru kami jalan2 ke sekitar stasiun tuk mencari makan. Dan restoran yg kami pilih letaknya persis di depan stasiun itu. Kami makan kerang hijau, kentang, salad tomat dan banana split. Hmm..enaaak. Lumayan lah, setelah kemarin seharian makannya junk food.
(foto: banan split & kerang ijo)
(foto: mas Indra & Zhavar di depan Gare du Nord Paris)
Paris-Rotterdam w/ Thalys
Jam 15.25 kereta Thalys berangkat menuju Rotterdam. Kali ini di Thalys kami ga terlalu banyak menghabis kan waktu di tempat duduk kami. Melainkan di tempat duduk yg letaknya diantara gerbong. Karena Zhavar ingin jalan2 terus di area itu. Selain itu kami jg cukup lama di gerbong makanan. Di gerbong itu kami berkenalan dgn org Yugoslavia yg sudah lama menetap di Belanda(18 thn). Awal perkenalan kami karena dia sangat senang ngeliat Zhavar dan ingin ngajak main Zhavar. Jadilah setelah itu aku & dia ngobrol2.

Aku seneng sekali bisa berkenalan dgn si ibu Yugoslavia ini. Dia cerita macem2. Dari kejadian yg tidak mengenakkan waktu pertama kali dia menginjakkan kaki di airport Schipol. Dia saat itu dituduh kriminal, krn kopernya dia ketika di x-ray ada sesuatu yg berbentuk seperti pistol. Setelah diperiksa ternyata itu adalah bros nya dia yg berbentuk burung. Bros yg ukurannya sangat kecil itu, bisa membuat heboh airport saat itu. Dia sendiri sudah diperlakukan sangat buruk oleh para polisi Belanda. Ketika diketahui bahwa itu adalah salah sangka, tak ada satu pun polisi Belanda yg sudah dgn semena2 mengatakan dia kriminal yg meminta maaf. Mendengar itu aku langsung berpikir, kalau itu yg terjadi padaku pasti akan lebih parah lagi. Mengingat aku yg memakai hijab. Bisa jadi perlakuannya lebih kasar dan semena2.

Tak terasa, tinggal beberapa menit lagi Thalys akan mendekati stasiun Rotterdam. Akhirnya akupun berpamitan dgn si ibu Yugoslavia. Kami ber3 lsg menuju tempat duduk kami dan bersiap tuk membawa segala barang2 bawaan kami.
Rotterdam-Amersfoort w/ NS(nederlands spoor)
Karena kereta Thalys sempat delay 10 menit krn ada gangguan teknis, maka kereta menuju ke Groningen yg dari Rottedam sudah terlewat oleh kami. Jadi satu2nya cara adalah naik kereta yg menuju Amersfoort. Di kereta ini Zhavar udah rewel bgt. Dia udah kecapean. Kami bawa Zhavar ke tempat yg agak sepi sehingga dia bisa main2 leluasa. Tapi tetep, krn capek dia nangis2 ga jelas. Untungnya sampe juga kami di Amersfoort.
Amersfoort-Groningen w/NS
Perjalanan belum usai. Kami masih harus menempuh krg lebih 1 jam dari Amersfoort ke Groningen. Di samping kami ada ibu2 yg ngajak main Zhavar, jadi Zhavar agak terhibur. Aku & mas indra udah ga digubris. Bosen kali sama ayah bundanya. haha. Selain itu jg ada bapak2 yg ngajak main Zhavar. Karena main terus, akhirnya Zhavar ngantuk juga. Dan dgn digoyang2 sebentar strollernya, Zhavarpun tertidur di kereta.
(foto: tertidur di dalam stroller, di kereta menuju Groningen)
Home sweet home
Alhamdulillah kami ber3 sampai di Groningen dlm keadaan sehat dan selamat. Sebelum pulang kami beli makanan dulu di Burger King stasiun, karena memang di rumah tdk ada makanan. Setelah itu baru deh kami pulang dgn memakai taksi.
Hwaaa, legaaaa bgt pas nyampe rumah. Kami beres2, bersih2, makan dan langsung tidur.