Zhavar Jadi Arsitek???
Jadi inget obrolan dgn salah satu temen kuliah yg nanya "Nanti anak lo jadi arsitek juga naz?" Huah, saat itu sih aku dengan santai bilang "Teserah anak g nanti. G sendiri ga bakalan maksa dia jadi arsitek. Tapi kalo emang ternyata anaknya doyan, knapa ngga?". Saat itu emang Zhavar masih bayi banget. Baru beberapa bulan lahir. Jadi aku ga terlalu ambil pusing jg sih.
Nah, minggu lalu seperti biasa Zhavar ngoprek2 alias ngeberantakin laci yang ada di kamar tidur kami. Laci itu emang penuh banget isinya. Tapi entah kenapa, Zhavar hanya tertarik pada satu barang yg ada di laci tsb. Bentuknya bulat berwarna hitam. Ada warna kuning sedikit di bagian ujungnya. Bentuk maupun warna yg ga terlalu menarik bayi pada umumnya tsb, ternyata sangat disukai Zhavar. Apakah itu? Meteran bow
. Dan Zhavar semakin terhipnotis dgn benda ini, setelah tau bahwa dibagian ujungnya tsb bisa ditarik keluar. Apakah ini pertanda bahwa Zhavar bakalan jadi arsitek?
. Sebenernya sih ya ga segampang itu memprediksikan Zhavar suka menjadi arsitek hanya dengan melihat dia suka pegang meteran. Lagi pula, untuk sebagian orang meteran tidak identik dgn arsitek. Bagi aku sendiri, meteran cukup menggambarkan seorang arsitek. Karena aku inget, dulu waktu kerja selalu siap meteran di tas ku. Untuk jaga2 aja kalo dibutuhkan(meskipun pada kenyataannya jarang kepake). Yg jelas bagi aku, segala sesuatu yg berupa ruang dan bisa diitung panjang, lebar, tinggi nya, arsitek banget
. Makanya, hanya dengan meteran cukup bisa menggambarkan seorang arsitek.
Lalu kembali ke Zhavar, apakah dia akan menjadi seorang arsitek ato ngga? Kayaknya jawabannya, masih sama deh. Teserah Zhavar. Meskipun, kalo jadi arsitek di Indonesia aga2 gimanaa gitu. Karena ngeliat perkembangan karir sebagai arsitek ga sebagus kalo jadi dokter. Karena dokter kan udah jelas banget tuh dibutuhin orang2. Nah, jadi arsitek di Indo ga gampang. Harus yg bener2 kreatif abis dan dikenal orang. Baru deh bisa laku. Ya tau sendirilah, orang2 di Indo lebih baik mengeluarkan uangnya tuk pengeluaran2 lain yg bersifat lebih utama, dibanding bayar arsitek tuk men-design rumah mereka. Banyakan sih, orang2 tinggal nyuruh tukang tuk bangun rumah mereka tanpa perlu bantuan arsitek. Emang sih, rumahnya tetep aja bakalan berdiri kokoh. Tapi yg jelas, unsur estetika, keamanan, keserasian,dll ga bakalan bisa tercapai tanpa bantuan arsitek.
Jadi, kalau Zhavar (seumpamanya) bakal jadi arsitek, aku berdoa mudah2an saat itu karier sebagai arsitek sebagus karier seorang dokter atau pengacara
.







ya..susah jg ya naz,
tp emang arsitek harusnya bukan hanya mendirikan bangunan, dia menciptakan ruang-ruang yang dihuni manusia,
yang kemudian seiring waktu, ruang2 itu diberi makna,diimbuhi ingatan, dijadikan keseharian dan akhirnya membentuk manusia dan kemanusiaan juga.
itu sih yg orang2 dan bahkan kita sebagai arsitek juga sering lupa…ya gak naz?,
tp klo hafiz ditanya.ya…hehe..jd dokter aja deh..
terlalu “berdarah” jd arsitek
aduuuh, jadi inget salah satu mata kuliah dulu deh..huehehehe..
..
huaks, dari kecil hafiz dah didoktrin ya? ck ck ck..
Comment dari relan — February 8, 2008 @ 11:42 am
*lagi blogjogging…salam kenal mbak
“Jadi, kalau Zhavar (seumpamanya) bakal jadi arsitek, aku berdoa mudah2an saat itu karier sebagai arsitek sebagus karier seorang dokter atau pengacara”
Amin mbak…mudah2an dari skrg perubahannya..
hueheuehuhe…
Comment dari Nando — November 22, 2008 @ 6:08 am