• banner copy
  • ..potret senaz :: Proses Persalinan :: June :: 2007

    June 9, 2007

    Proses Persalinan

    Tersimpan di kategori: cerita kehamilan ke-2, umum

    Akhirnya, setelah 3 bulanan sibuk penyesuaian diri karena Zhavar lahir plus kedatangan orang tuaku dan mertua yg menyebabkan aku ga sempat update blog(or should I call it ‘hiatus’ instead?), aku udah mulai bisa ngisi blog lagi. Postingan pertama ini tentang proses persalinan.

    Emang sih udah agak basi kalo nulis tentang proses persalinan yang aku alami. Cuma aku ngerasa perlu nulis tentang ini. Karena sebagai first-timer dalam hal melahirkan, aku pengen tahu banget hal-hal yang berhubungan dgn proses melahirkan ini. Mulai dari persiapan ke Rumah Sakit, rasa kontraksi, situasi yang bakal dihadapi di ruang persalinan, sampai dengan si bayi bener-bener keluar dari rahim. Jadi, beberapa minggu sebelum aku melahirkan, aku tuh sibuk browsing di internet tentang proses persalinan. Entah dari website komersil ataupun dari yang non-komersil alias gratisan seperti blog ini. Semakin banyak aku baca, semakin banyak aku tahu dan lumayan bisa mengurangi rasa deg-degan ku. Mudah-mudahan cerita persalinanku bisa menambah bayangan tentang gimana persalinan itu(bagi yang belum ataupun yang akan menjalani persalinan).

    11 Februari’07 (Minggu)
    Hari selasa yang lalu, aku periksa ke dokter kandungan(Dr. Van Loon) dan hasilnya bahwa kepala bayi di bawah dan posisinya udah di pinggul. Biasanya kalau udah posisi ini berarti ngga lama lagi si bayi akan minta keluar. hehe. Tapi tergantung juga sih, ada juga bayi yang betah di posisi ini berlama2, bahkan melewati waktu yang diperkirakan dokter. Selain diperiksa posisi bayi, si dokter jg menanyakan keadaanku. Apakah aku masih terkena PUPP atau tidak. Karena jawabanku adalah masih terkena PUPP(meskipun tdk separah beberapa minggu sebelumnya), maka Dr. Van Loon memberi pilihan ke aku: 1. Menunggu kontraksi alami(kira-kira kalau sesuai dgn perkiraan adalah 2 minggu lagi) dan masih terkena PUPP. atau 2. Diinfus agar terjadi kontraksi secepatnya(induksi) dan tidak perlu lagi merasakan PUPP. Mendengar kata-kata induksi aku langsung lemas. Soalnya dari cerita orang-orang yang pernah mengalami induksi rata-rata tuh negatif semua. Kata mereka sakit banget. Bahkan aku baca-baca di babycenter.com, babyzone.com dan website-website khusus masalah persalinan lainnya, kalau induksi tuh ada bahayanya juga. Kalau induksi ga berhasil, bisa-bisa malah harus di cesar. Doooh, semakin merinding deh bacanya. Aku paaaaaling takut kalo harus berhubungan dengan meja operasi.

    Pulang dari dokter, aku dan mas indra mikir-mikir tentang pilihan yang dikasih dokter. Mas indra sih cenderung tuk diinduksi ajah. Karena menurut mas indra akan lebih bagus untuk aku. Aku ga perlu ngerasain PUPP/gatal-gatal lagi. Terus juga kalau diinduksi kami bisa tahu dengan tepat kapan si bayi akan lahir, jadi udah pasti mas indra akan bisa nemenin saat persalinan nanti. Karena kalo nunggu bener-bener kontraksi alami kan bisa aja saat itu mas indra lagi pergi ke luar kota(jemput mamaku~yg akan dateng beberapa hari lagi~di schiphol) atau lagi di kampus. Terus alasan terakhir adalah mas indra udah ga sabar pengen liat bayinya. Huuu, dasar. Itu mah ga mikirin gimana sakitnya aku kalo diinduksi. hehe.

    Sebenernya sih alasan-alasan tsb emang masuk akal. Cuma ya itu. Aku takut banget dengan induksi. Kebanyakan tahu juga bikin repot. Karena aku jadi tahu mana yang bakalan sakit atau ngga. Intinya, selama beberapa hari semenjak pulang kontrol dari dokter itu, jawaban ku adalah ‘TIDAK’. Aku lebih memilih kontraksi normal. Pokoknya teserah si bayi, mau keluar kapan.

    Hari ini, entah kenapa aku ngerasa bimbang dengan jawaban itu. Aku ngerasa kalau bener-bener terganggu dengan gatal-gatal PUPP itu. Trus, mendekati hari mamaku dateng juga aku takut kalau si bayi mau keluar bertepatan dengan mendaratnya mamaku di Schiphol. Kalau kenyataannya begitu kan berarti mas indra atau pun mamaku ga bakalan bisa nemenin aku waktu proses persalinan itu. Dan juga, bener banget tuh mas indra. Ternyata aku juga ga tahan pengen cepet-cepet ketemu sama si bayi. Hehehe.

    Akhirnya, hari ini aku memutuskan untuk mengambil pilihan diinduksi. Dan mas indra pun langsung meng-iyakan.

    Untuk meyakinkan tentang induksi ini, aku telpon RS dan buat janji lagi tuk ketemu dokter dan kamipun disuruh datang hari Rabu.

    13 Februari 2007 (Rabu)
    Waktu kami datang ke RS, yang melayani aku ternyata si bidan. Trus aku bilang ke si bidan bahwa aku mau diinduksi, sesuai saran Dr. Van Loon. Dan si bidan pun langsung memeriksa aku. Jadi untuk bisa diinduksi, ternyata kita harus diperiksa dalam dulu. Gunanya untuk mengetahui, apakah sudah ada bukaan atau belum. Karena kalau belum ada bukaan, berarti tubuh kita secara biologis belum siap untuk melahirkan dan proses persalinanpun akan tambah sakit. Nah, pas diperiksa dalam ini ternyata sakit. Aku ga tau apakah itu normal untuk sakit atau tidak. Soalnya faktor sakit itu ada andil juga dari si bidan. Karena bidan itu hrs periksa aku selama 3x, karena dia ga bisa mengambil kesimpulan apakah aku sudah ada bukaan atau tidak. Sampai akhirnya si bidan itu hrs minta bantuan dari Dr. Van Loon. Alhamdulillah diperiksa Dr.Van Loon 1x, dia langsung bisa mengambil kesimpulan bahwa aku sudah bukaan 2*.

    *yg dimaksud dengan bukaan adalah cervixnya sudah terbuka berapa cm. kalau bukaan 2, berarti sudah 2cm, dst.

    Karena aku sudah bukaan 2, maka secara biologis aku sudah siap untuk melahirkan. Dan proses induksipun bisa dilaksanakan. Karena besok(14 Feb’07), mamaku baru mendarat di Schiphol. Maka kami putuskan tanggal yg tepat untuk melakukan induksi adalah lusa(15 Feb’07).

    Pulang dari kontrol tsb, aku mengalami pendarahan. Kata bidannya sih normal terjadi pendarah sehabis diperiksa dalam. Jadi setiap aku buang air kecil dan ada pendarahan aku cuek ajah. Sampai sekitar jam 7-an malam aku mulai khawatir. Karena darah itu berhenti ataupun berkurang. Karena seingatku kata si bidan pendarahan itu ga berlangsung lama, mungkin sekitar 2-4jam. Sedangkan aku sudah melewati masa 2-4jam tsb. Akhirnya mas indra telpon ke RS tuk menanyakan apakah hal tsb normal atau tidak. Karena mereka(pihak RS) tdk yakin dengan kondisiku saat itu, mereka menyuruh aku datang saat itu juga. Kami pun langsung ke RS. Sampai di sana aku langsung diperiksa oleh dokter jaga saat itu di salah satu kamar bersalinnya. Perutku dipasang alat CTG(cardio Toco Graph), yg gunanya tuk memonitor detak jantung si bayi dan kontraksiku(just in case kalau ada kontraksi). Setelah 30 menit dimonitor dgn alat tsb, alhamdulillah kata Dr. detak jantung si bayi normal. Tapi Dr tsb menyuruh aku tetap tinggal di RS selama 2 jam kedepan, karena selama 30 mnt diperiksa aku mengalami kontraksi yg konstan dengan jeda 3 menit. Jadi 2 jam tsb akan dilihat apakah kontraksinya bertambah kuat atau tidak. Karena kalau iya, ditakutkan aku bisa melahirkan malam itu juga. Dan jika demikian lebih baik aku tetap tinggal di RS.

    Setelah menunggu selama 2 jam, ternyata kontraksi ku tidak bertambah kuat bahkan kontraksi itu hilang. Jadi, sekitar jam 11-an malam kami pulang ke rumah.

    Saat itu kami berdua agak-agak kurang tenang. Karena ternyata selain sudah bukaan 2, aku jg sudah mengalami kontraksi yg konstan. Sedangkan besok, mas indra hrs pergi menjemput mamaku. Total perjalanan Groningen-Schiphol pulang pergi kurang lebih 6 jam. Jadi dalam waktu 6 jam tsb, bisa jadi si bayi malah ingin keluar. 

    14 Februari 2007(Kamis)
    Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5-an mas indra sudah pergi ke stasiun Kereta Api untuk menjemput mamaku di Airport Schiphol. Selama di perjalanan mas indra beberapa kali menelpon, menanyakan apakah aku mengalami kontraksi lagi atau tidak. Alhamdulillah, sampai mas indra dan mamaku tiba di Groningen aku tidak mengalami kontraksi.

    Hari itu dipenuhi dengan bongkar koper yang isinya oleh-oleh cemilan khas indonesia dan barang-barang bayi.

    15 Februari 2007(Jum’at)
    Setelah subuh, kami bertiga langsung siap-siap untuk berangkat ke RS. Aku menyiapkan barang-barang* yang hrs dibawa untuk persalinan nanti. Mamaku menyiapkan cemilan** untuk pengganjal perut selama menunggu saat proses persalinan. Mas indra menyiapkan moses basket*** bayi yang akan dibawa ke RS. Kami pun sampai di RS sekitar jam 8.15 pagi(telat 15 menit dari jam yg sudah ditentukan). Oia, aku sengaja pagi itu ga sarapan cuma nyemil ajah, karena aku takut pas mau melahirkan malah pup lagi. hehe.

    Samapi RS, aku langsung disambut oleh nurse Elske yang sudah menungguku di meja depan ruang bersalin. Kemudian kami diantar masuk ke kamar bersalin yang sudah disiapkan khusus untukku. Wah, pas masuk kamar bersalinnya aku seneng bgt. Soalnya kamarnya besar, rapih dan bersih. Sama sekali ga keliatan kl itu tuh rkamar tuk bersalin. Pokoknya first impression ok deh tuh kamar. Dan ternyata suasana tuh bener-bener ngaruh bgt loh. Lumayan untuk sesaat aku lupa dengan rasa deg-degan ku.

    Lalu, suster Elske menerangkan ke aku proses persalinan yang akan aku jalani tuh seperti apa. Dia juga memberiku beberapa kertas yang berisi gambar yang menjelaskan secara 2 dimensi tentang proses itu. Setelah itu aku disuruh ganti baju bersalin(kalau di RS ini tidak menyediakan baju bersalin. jadi aku bawa baju sendiri dari rumah). Ga lama berselang, datang Dr. de Vries(dokter kandungan yg tugas saat itu~Dr.Van Loon hari itu libur) dan Sherida(bidan yang sedang magang). Mereka menerangkan kembali tentang proses induksi dan dosis infus yg akan mereka kasih ke aku.

    Tepat jam 10 pagi, aku diberi infus dengan dosis setengah dari dosis yg biasa dipakai(ukuran normal) untuk melakukan induksi. Dr. de Vries ingin tahu seberapa banyak reaksiku terhadap dosis yg dikasih. Karena katanya tiap orang beda-beda kesensitifannya terhadap obat. Jadi, kalau dgn dosis setengah ini dalam jangka waktu 30 menit belum ada kontraksi, baru akan ditambah dosisnya.

    5 menit kemudian, aku sudah merasa mules-mules alias kontraksi. Tapi belum kontraksi yang kuat. Jadi saat itu aku masih bisa ngobrol sama mas indra dan mamaku. Trus ga lama, kontraksinya makin kuat. 1 jam semenjak pertama kali diinfus, dokter beserta bidannya dateng ngecek keadaanku. Mereka bilang bagus. Kontraksinya udah konstan dan menguat. Karena dengan dosis setengah aja aku udah kontraksi, jadi yang rencananya dosis infusnya tiap jam akan di naikin, jadi ga jadi. Trus, aku akan dicek 1 jam lagih.

    Nah, saat ini aku udah mulai ga bisa becanda-becanda lagi sama mamaku ataupun sama mas indra. Pokoknya yang aku rasain saat itu badan lemes banget dan menggigil. Aku minta dipijet-pijet kakinya dan minta diselimutin. Sherida dateng sama Elske, ngecek tuk yg ke-2 kalinya. Katanya kondisiku bagus bgt. Meskipun aku yang lemes dan kesakitan, katanya aku bisa ngatur nafas dengan bagus. Mereka sampe nanya, apakah aku sempet ikut senam hamil ato ngga. Tentu aja jawabannya ngga. Pokoknya itu natural banget deh. Secara otomatis pas aku udah mulai ngerasa kesakitan, aku tarik-buang nafas pake ritme sendiri. Alhamdulillah bgt ga perlu keluar uang tuk ikutan senam hamil segala, karena ternyata aku udah bisa dengan sendirinya. Tapi meskipun aku bisa mengurangi rasa sakit dengan metode pernfasan itu, ternyata rasa sakitnya tuh tetep ga bisa ditahan. Aku bener-bener udah ga tahan. Aku ngerasa lemes dan ga yakin akan bisa ngelanjutin lebih lama lagi. Apalagi pas di cek aku masih tetep pada bukaan 2. Jadi aku minta ke Elske dan Sherida tuk ngasih aku epidural(obat bius penahan rasa sakit). Eh, bukannya mereka langsung cari anestesi tuk nyuntik aku, tapi mereka malah manggil Dr. de Vries. Trus sama Dr. de Vries aku ga boleh dikasih epidural. Wah, saat itu dengan lemesnya aku dah memohon-mohon. Tapi kata Dr. de Vries, aku tuh bisa nahan rasa sakit itu dan bisa melalui itu semua tanpa obat bius. Karena emang lebih baik tanpa obat bius. Kalo pake epidural, nanti pada saat harus pushing, ga bisa terkontrol karena aku bakalan mati rasa akibat obat bius tsb. Tetep dengan penjelasan spt itu, aku tetep minta dikasih epidural. Karena aku keukeuh, akhirnya Dr. de Vries bilang dia akan ngeliat 1 jam lagi. Dan kalau ternyata aku bener-bener ga sanggup baru deh bakal dikasi epidural. Dengan jawaban itu aku mulai agak tenang, meskipun sempet sebel krn heran banget kok mereka ga mau kasih aku epidural. Toh, semua proses persalinan ini biayanya tercover asuransi. Jadi seharusnya itu ga bermasalah dan itu hak aku sebagai pasien kan.

    Jam ke-3 rasa sakitnya menjadi-jadi. Asli deh, ruangan yang sebenernya hangat itu berasa dingiiiin banget. Aku bener-bener menggigil. Mukaku udah pucat banget. Mas indra dan mamaku yg ikut nemenin ngeliat itu langsung bantu mijit tangan, kaki, dll. Cuma saat itu aku bener-bener dalam keadaan lemes dan sakit. Justru dipijitin malah bikin tambah ga enak badan. Jadi deh, aku bilang ke mereka berdua untuk ga usah pijitin aku lagi.(ehem, menurut info dari mas indra..aku ngomongnya dgn nada jutek..hehehe..duuuh, maaf ya mama dan suamiku..bener loh aku ga sadar..;p). Trus jam ke-3 diperiksa lagih. ternyata udah bukaan 5. Huuuaa, masih lama dooong. Tapi aku menagih janji. Minta di epidural. Dan jawabannya tidak berubah loh. Aku tetep ga dikasih epidural. Emang nih, di Belanda sini katanya jaraaaang bgt yang pake obat penahan sakit(apapun ituh). Bahkan normalnya orang sini tuh kalo ngelahirin di rumah dengan bidan. Agak-agak aneh ga sih, negara yang udah maju seperti ini malah di bidang kedokteran mereka lebih memilih jalan natural.

    Bener deh, pas tau jawabannya ga boleh aku bener-bener ngambek. Sebenernya sih mo marah-marah sama suster, bidan atopun dokternya. Mau komplen, kenapa aku ga dikasih epidural padahal udah memohon banget. Cuma karena aku tak berdaya saat itu, jadi aku hanya bisa pasang wajah bete ajah. Pokoknya muka tuh dah berlipet-lipet deh.

    Menit pun berjalan dan aku semakin lemes. Aku ngerasa ada tekanan dibagian bawah. Cuma dalam keadaan seperti itu, aku belum boleh untuk ngeden. Aku cuma bisa atur nafas. Elske pegangin tanganku dan bantu aku tuk tetep nafas dgn ritme yg sama. Sherida bicara sesuatu ke mas indra & mamaku yg berdiri disekitar tempat tidur ku. Tp entah deh obrolannya apa. Aku udah ga konsen dengan lingkungan sekitar. Trus karena nafasku makin lama makin berat dan mukaku juga makin pucet, akhirnya Sherida mo ngecek apakah aku udah nambah bukaannya.

    Dan ternyata setelah dicek aku udah bukaan 10 loh. Sama Sherida mas indra dan mamaku disuruh ngeliat, kalau kepala bayinya udah mulai kliatan. Setelah mereka berdua ngeliat ada kepala bayi udah agak nongol, langsung heboh(terutama mamaku..hehe). Langsung deh Dr.de Vries dipanggil. Jadi sekitar jam 14.10, aku udah boleh pushing. Sherida nuntun aku cara untuk pushing dan kapan harus pushing.

    Aku baru boleh pushing(ngeden) kalau ada kontraksi. Dan pada waktu kontraksi itu aku tetep harus atur nafas yg beritme dan diakhiri dengan pushing. Setelah ngeden yang pertama, kepala si bayi udah setengah keluar.(saat posisi kepala bayi setengah keluar ini, aku disuruh megang kepalanya). Sama Dr.de Vries aku disuruh tahan di posisi itu. Aku ga boleh ngeden lagi. Jadi emang sengaja kepala bayi tuh setengah keluar, trus ditahan di posisi tsb supaya bagian bawahku tuh ga robek. Lalu, kontraksi yg ke-2 aku disuruh ngeden lagih. Dan alhamdulillah, kepala si bayi seluruhnya keluar diikuti dgn badannya(pukul 14.25). Pas seluruh badannya keluar, selang 3 detik si bayi nangis keras. Alhamdulillahirrabil’alamin.

    Si bayi lsg ditaruh di badanku. Trus mas indra diberi kehormatan untuk motong tali pusarnya. Setelah itu baru deh diadzanin+qomat. Pas dibacain adzan, si bayi yg tdnya nangis lsg berenti dan matanya yg tadinya ketutup langsung kebuka. Subhanallah. Si bayi kyk bener-bener ngerti apa yg sdg dibacain. Suasana lsg hening. Bahkan Elske, Sherida dan Dr.de Vries pun ikut menyimak. Setelah selesai dibacain Sherida bilang bahwa apa yg dibacain itu terdengar indah. Wah, mudah-mudahan dia dapet hidayah ya.

    Setelah itu, Elske langsung menanyakan nama si bayi sapa? Karena dia mau nulis di catatan RS. Langsung dengan sigap mas indra jawab Zhavar Fahiem Muliawan.

    (foto: zhavar usia 1jam) 

    Ternyata tugasku belum selesai. Aku masih harus ngeden sekali lagi tuk ngeluarin plasentanya Zhavar. Dan sama seperti ngeden sebelumnya, aku harus nunggu sampe ada kontraksi lagih. Sempet bingung sih, soalnya setelah Zhavar udah lahir aku ga ngerasa ada kontraksi lagi. Jadi pas disuruh itu, aku bener-bener fokus biar sadar kalau ada kontraksi sekecil apapun bisa langsung ngeden. Sementara itu Zhavar masih di atas tubuhku, aku susuin. Alhamdulillah plasentanya keluar dan dalam bentuk yg sempurna(maksudnya ga robek-robek, dan itu berarti ga ada yg tertinggal di dalam rahimku). Baru deh setelah itu waktunya aku dijait. Wow, ternyata dijait itu lebih sakit daripada melahirkan. Kata Dr de Vries sih udah dibius lokal, tp kok aku ngerasa bgt sakitnya. Jadi selama dijait itu aku meringis-ringis. Kalo Zhavar sih diem ajah, ga nangis lagi krn dia lagi nyusu. Enak sekali ya jadi bayi. hihi.. 

    Abis nyusu, Zhavar diambil Sherida untuk dibawa ke meja observasi bayi(di kamar bersalin itu juga) tuk diperiksa seluruh organ tubuhnya plus refleknya dia. Dari jauh aku bisa sambil ngeliatin Zhavar diapain aja sama Sherida. Pertama ditimbang. Trus diperiksa mulut, mata, tangan, kaki, perut, dll. Trus diperiksa refleknya. Alhamdulillah APGAR scorenya 9/10.

    (foto: mas indra menggendong anak pertamanya) 

    Setelah semua pemeriksaan selesai zhavar langsung dipakaiin baju, dibedong dan ditaruh di tempat tidurnya dia(milik RS) dan diletakkan disamping tempat tidurku. Sementara itu aku makan dan minum yg banyak, abis laper banget sih. Trus aku berbaring-baring aja di tempat tidur, kecapean. Ga terasa udah jam 16.00. Dan pas jam segitu, Sherida, Elske dan Dr. de Vries masuk ke kamar. Mereka pamitan, krn udah waktunya pulang(mereka shift pagi). Sebelum mereka pergi aku bilang makasih dan minta maaf kalo sempet judesin mereka.hehe. Dan acara pamitan ditutup dengan foto bareng.

    Mereka pergi, ga lama dateng suster yg shift malam. Dia nawarin bantuan tuh mandiin aku. Pertama aku bilang ga perlu, aku bisa sendiri. Eh, pas mo berdiri aku keleyengan. Ooooh, pantesan aja si suster itu nawarin bantuan. Karena emang stlh melahirkan kondisi si ibu tuh belum fit. Akhirnya aku mandi dgn bantuan si suster. Mamaku lagi gendong-gendong Zhavar. Sedangkan mas indra sibuk telpon ngabarin semua keluarga di indo.

    (foto: mamaku-zhavar-aku) 

    Acara  beres-beres selesai jam 18.00an. Pas kami udah mau siap pulang, susternya dateng dan bilang kalo untuk aku, karena aku ini baru melahirkan pertama kali jadi disuruh nginep di RS. Cuma aku mikirin mas indra dan mamaku. Kalo aku nginep di RS kasian mereka. Soalnya RS disini beda sama di indo. Meskipun kamarnya besar, tp ga ada tempat tidur tuk yg nungguin. Dan lagi pula, mamaku pasti capek banget krn baru kemarin kan sampai Belandanya. Jadi aku milih pulang ajah. Sebelum aku pulang, susternya memastikan bahwa akan ada suster yg dateng ke rumah malam ini untuk ngecek Zhavar.

    Dan sekitar pukul 20.00an kamipun pulang ke rumah.

    Jam 21.00 tiba-tiba  bel rumahku berbunyi, ternyata yang datang adalah suster(yg akan ngebantuin ngerawat Zhavar & aku selama 8 hari setelah melahirkan). Dia datang meriksa Zhavar dan meriksa keadaan ku. Alhamdulillah semua dalam kondisi baik. 1 jam kemudian diapun pulang.

    Huaaaah…legaaa..Abis itu niatnya mau langsung tidur. Tapi ternyata perjalanan hari ini belum selesai, karena Zhavar udah langsung nangis-nangis minta minum. Dan kami bertiga langsung ngeronda lagi. hehe.

    Catatan:

    *u/ibu: pakaian bersalin(baju yg longgar seperti daster dengan bukaan depan~panjang baju jgn melebihi lutut~gunakan warna gelap), sendal, peralatan mandi, baju ganti(dipakai setelah mandi abis melahirkan~cukup bawa 1 krn tdk berencana menginap di RS). Aku sebenernya juga bawa handuk, kaos kaki & pembalut wanita, tp ternyata di sana disediakan.

    u/bayi: topi, sarung tangan, kain bedong, body suit, celana, atasan, jaket(krn lagi dingin), selimut(krn lagi dingin).

    **bawa yg manis-manis.

    ***kalau di belanda bayi ga boleh digendong jika naik kendaraan. Hrs pakai kursi bayi yg utk di mobil atau tempat tidur bayi. Karena aku blm punya kursi mobil tuk bayi jadi kami pakai tempat tidur bayi yg bisa dijinjing(moses basket).

    2 Komentar »

    The URI untuk Taut Balik tulisan ini: http://senaz.blogsome.com/2007/06/09/proses-persalinan/trackback/

    1. Assalamu’alaikum

      Subhanallah..amazing Naz..aku sampai meneteskan air mata bacanya..terbayang moment2 pas mau lahiran anak kamu.

      Aku belum punya anak, jadi cerita ini sepertinya gimana ya, bikin terharu seklaigus agak ngeri gitu, ngebayangin sakitnya. Tapi alhamdulillah semua lancar dan selamat.

      Sakitnya hilang setelah kehadiran baby kan?.
      O,ya yang pernah aku baca epidural itu agak riskan lho. Soalnya memasukkannya di bagian tulang belakang(kalau nggak salah) trus harus sama dokter ahli tersendiri yg masukin. Kalau salah akibatnya fatal CMIWW.

      Mungkinitu salah satu sebab dokternya ngotot nggak mau ngasih.

      BTW, nggak percaya kalau di foto itu ibu senaz…wih..sama cantiknya dg anaknya…he..he..muda banget..awet muda…mau tahu rahasianya dong..he..he..

      wassalamu’alaikum

      Comment dari maisara — September 12, 2007 @ 4:15 am

    2. Thanks banget yah untuk sharingnya. Aku lagi hamil di minggu ke 38 sekarang. So anytime bisa lahiran juga, walaupun prediksi dokter masih 2 minggu lagi. sharingnya bagus banget dan nambahin kekuatan dan motivasi utk bisa lahiran secara normal.thanks yah dan semoga baby Zhavar sehat2 yah…

      Comment dari Widya — October 15, 2008 @ 4:31 am

    RSS feed untuk komentar pada tulisan ini.

    Mau berkomentar?

    Garis dan alinea pisah secara otomatis, alamat e-mail tidak akan ditampilkan, HTML yang diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



    Anti-spam measure: tolong ketik ulang teks di atas ke dalam kotak yang sudah disediakan.