1 Ramadhan ~ Niat Rahasiaku
Beberapa hari menjelang Ramadhan, awal bulan yang mulia itu belum dapat dipastikan. Malam menjelang 1 Ramadhan, pihak masjid mengumumkan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu dan tentu saja hari ini pertanda bahwa kami(ummat Islam) harus sudah memulai ibadah puasa dan tadi malam sudah bisa dimulai sholat tarawih.
Tentu saja aku senang sekali bahwa Ramadhan sudah datang. Tapi dibalik rasa senangku itu, ada satu persiapan yang membuat aku deg-degan, takut aku tidak bisa mengerjakannya. Yang kumaksud bukanlah persiapanku secara fisik atau psikis. Kalau fisik, dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, ada pengecualian yang diberikan oleh Allah untuk tidak berpuasa. Sedangkan secara psikis, sudah berbulan-bulan yang lalu aku melatih diriku untuk menjalani bulan Ramadhan ini menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi yang aku maksud dengan persiapan itu adalah bagaimana aku berperan sebagai istri yang baik.
Hampir semua teman-temanku tahu bahwa semasa aku hamil ini, aku tidak terlalu bisa berkutat di dapur. Bukannya aku tidak mau, bahkan sebelum hamil aku adalah orang yang termasuk rajin menyentuh dapur. Tidak heran bila ada yang berkomentar kalau tiap hari suamiku terlihat semakin chubby. Yaa, mungkin karena disebabkan bau bumbu-bumbu yang di dapur itulah maka aku enggan menyentuhkan kaki di daerah paling ujung di rumahku. Sedangkan bagi yang hidup di luar negeri, tentu sudah tahu bahwa untuk makan sehari-hari tidak lah mungkin bila kita(yang tinggal di luar negeri) selalu membeli makanan di luar, alias jajan. Selain mahal, ke halalannya juga perlu dipertanyakan. Lalu, jelas saja tugas memasak adalah kewajiban para istri, karena para suami sudah lelah bekerja dan memang tugas seorang istri untuk melayani suaminya. Kalau di Indonesia, dengan keadaanku seperti ini mungkin penyelesaiannya sangat mudah. Aku bisa mempekerjakan pembantu. Tapi jika hidup di luar negeri, suatu hal yang jarang sekali terjadi bila seseorang mempunyai pembantu, kecuali mungkin orang tersebut mempunyai pendapatan yang cukup besar. Jadi, tugas memasak yang selama ini aku jalani sebelum hamil, semenjak aku hamil diambil alih oleh suamiku dengan ikhlas.
Namun, sudah dari berminggu-minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan ini aku bertekad akan memulai kewajibanku lagi sebagai seorang istri pada bulan Ramadhan. Sengaja aku tidak bilang-bilang ke suamiku tentang niatanku ini. Aku ingin dia surprise. Aku ingin suamiku memakan hasil racikanku pada waktu sahur untuk membekali dirinya selama hampir seharian berpuasa. Aku ingin suamiku melepas dahaganya setelah seharian penuh menahan lapar dan haus dengan merasakan masakanku ketika adzan maghrib berkumandang. Itu tekadku. Karena aku tidak menjalankan ibadah berpuasa, paling tidak itulah ibadah nyata yang akan aku lakukan di bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan pahala dari Allah.
Aaah, dalam beberapa jam lagi waktu berbuka akan tiba. Sebaiknya aku mulai beranjak ke dapur jika ingin niatanku ini terlaksana.







masak memasak lagi dunk.. hehe
blognya aku link ya?
Comment dari amellie — September 24, 2006 @ 8:21 am
Amiin, amiin. Niat baik, jalannya baik, Insya Allah hasilnya baik & yg pasti ganjarannya asik loh, Naz.. Kl lg hamil, puasa/ga puasa kan sm2 sedang jihad ya..
Comment dari Vina — September 25, 2006 @ 8:57 am
tuk amel>>iya nih..kembali ke peradaban..hehe
tuk mba Vin>>bener mba Vin..insyaAllah cihuy jg deh amalan ibadahnya..hehe..amin2..
Comment dari senaz — September 26, 2006 @ 2:53 pm
Tes-tes hehe, Iya bener kemaren itu aku ga lengkap ktnya kan begitu justru biar ga kena spam, eh ternyata…jd gimana sen, udah berhasil masak belum?
Comment dari Agnes — October 3, 2006 @ 3:00 pm
tuk mba Agnes>>sukses mbaaa..tp seadanya gituh..kalo dulu kan pas masak komplit plit plit..sekarang sederhana abizz..hahaha..sayur aja seringan di lalap..hihihi
Comment dari senaz — October 6, 2006 @ 10:04 am