Suara Apa Yang Membuat Anda Bahagia?
Semenjak kemarin, aku merasakan perih di perut atas persisnya sih di belakang tulang dada. Panik dan tentu aja deg-degan, karena sampai pagi ini pun sakit tsb masih muncul. Belum lagi ditambah kami belum pernah berpengalaman dalam hal ini.
Mas Indra langsung browsing internet dan membaca buku pregnancy yang kami miliki untuk mencari tahu segala bentuk penyakit yang berhubungan dengan gejala tersebut. Karena keterbatasan informasi yang didapat, maka mas Indra pun kurang yakin jenis penyakit apa dari rasa sakitku itu. Sempat terpikir oleh kami bahwa rasa sakit itu tidak berbahaya dan tidak perlu dicemaskan. Tapi karena rasa perih itu datang berkali-kali(meskipun tidak konstan/terus-menerus), kami pun menjadi khawatir. Kami tidak mau mengambil resiko dengan bertindak acuh terhadap rasa perih tsb.
Langsung saja ku telpon RS untuk membuat janji bertemu dengan dokter kandungan. Ku jelaskan situasiku dan alhamdulillah pihak RS langsung menyisipkan aku di jadwal salah satu dokter yang bertugas hari ini dan akupun bisa langsung datang ke RS. Padahal untuk bertemu dengan dokter tidak semudah itu di Belanda. Pasien harus menelpon lebih dahulu dan biasanya akan dijadwalkan 1 minggu setelah itu. Mungkin aku dimasukkan menjadi salah satu pasien darurat, jadinya bisa datang saat itu juga.
Selama diperjalan menuju ke RS(kami menggunakan bis dan lama perjalanan 30 menit), tidak henti-hentinya aku mengelus-elus perutku berharap bisa merasakan tendangan si baby. Namun aku tidak merasakan apapun dan aku hanya bisa berdoa dalam hati supaya si baby sehat-sehat saja di dalam sana.
Akhirnya kami sampai di RS. Aku langsung mendaftar ke resepsionis. Tidak lama setelah itu, namaku pun dipanggil oleh suster. Aku agak-agak heran, karena tidak biasanya aku diperiksa hanya dengan suster. Apalagi dengan kondisiku yang merasakan perih seperti ini, aku menginginkan seorang dokter yang akan meriksa diriku, gumamku dalam hati. Ku menoleh kesamping dan kulihat suamiku pun seperti berpikiran yang sama denganku. Benar saja, ketika sudah di ruang dokter si suster pun sepertinya kurang mengerti dengan masalah yang aku utarakan. Tekanan darahku diperiksa dan alhamdulillah hasilnya normal. Kemudian aku disuruh berbaring di tempat tidur yang disediakan dan si suster menekan-nekan perutku. Setelah itu ia mengambil sebuah alat(bentukkan seperti microfone) yang diletakkan di perutku bagian bawah. Tidak lama terdengar suara detak jantung. Aku tahu itu bukan suara detak jantungku, karena frekuensinya sangat cepat(seperti suara kuda berlari). Langsung saja aku bertanya ke suster tsb "Is that the baby?" untuk meyakinkan perkiraanku. "Ja, dat is the baby" kata suster itu dengan logatnya yang bercampur-campur antara Belanda dan Inggris. Aku dan suamiku hanya bisa saling memandang. Betapa bahagianya kami mendengar bunyi itu. Ini pertama kalinya kami berdua mendengar detak jantung si baby. Aku pun langsung terlupa dengan keluhan rasa perihku itu. Lalu suster itu menyuruh kami berdua menunggu, karena dia akan memanggilkan sang dokter. Oooh, ternyata aku akan diperiksa dengan dokter juga tooh, kataku pada mas Indra. Jujur saja, aku sudah tidak terlalu menanti-nanti diagnosa dokter semenjak mendengar detak jantung calon anakku itu. Dan alhamdulillah, diagnosa dokter bahwa perih-perih yang kurasakan hanyalah heart burn dan kata dokter kami berdua tidak perlu cemas akan hal itu. Phuuff, lega sekali aku.
Penyesalanku cuma satu, bahwa aku maupun suamiku tidak sempat merekam detak jantung si baby; suara yang membuat kami berdua sangat bahagia.







can’t wait to see the baby mba
it doesn’t matter if it’s a boy or a girl, bet it’s gonna be cute little chubby just like his/her parents xD
Comment dari sansa — September 13, 2006 @ 12:56 pm
Alhamdulillah, akhirnya nggak apa2 ya Sen…ya memang lebih baik langsung kontak dokter aja, bukannya parno tapi untuk menghindari kalau ada apa2 nggak nyesel seumur2. Itu juga berlaku buat yang pernah hamil. Karena masing2 anak bawaannya beda2. Aku juga sering ngalamin heart burn kyk senaz, bahkan pernah nggak bisa bangun dr tidur krn perut bagian bawah tegang. Yah, kalo udah kayak gitu nggak mau maksa ngapa2in
Moga Senaz & si baby selalu sehat…
*hhmm…seneng nih lihat blognya senaz*
Comment dari Dessy — September 14, 2006 @ 12:49 pm
duh makasih atas ucapan ultahnya
hmm disini banyak si org indo yg ambil psikologi. adeknya dr UI yah? ntar aku tanyain deh ama temen2ku.. soalnya aku jarang gaul ama org indo disini..
salam kenal yah!
Comment dari amellie — September 14, 2006 @ 2:20 pm
hallo…blog nya asik bgt buat dibaca!!
)…eh, aku ada rencana ke Amsterdam bulan November. Jauh yah dari kota mu? ..
Slm kenalyah, aku di Magdeburg, ke Belanda butuh waktu 5 jam gitu
Oia…aku ikutan doa yah supaya janin dan Ibu nya sehat sempurna. Aku jg lg program hamil nih, mudah2an bisa hamil
Comment dari ciedo — September 14, 2006 @ 3:55 pm
naz…iya..kok aku isi comment gagal mlulu yah…jadi binun ^-^
Comment dari ciedo — September 14, 2006 @ 4:48 pm
Salam kenal, Naz.. (Nice name..) Udh lm di Netherlands? (bnr kan di belanda ya dikau??) bk shoutbox dooong, biar gampaang say hellonya.. Next time mampir lg yaah.. Foto2 yg di headernya bgs bgt!!
Comment dari Vina — September 15, 2006 @ 1:53 am
ok.. ntar aku tanyain ama temenku, dia jg anak psyc soalnya
Comment dari amellie — September 15, 2006 @ 2:36 am
tuk sansa>>>makasih deeek..love uuu
tuk mba Des>>>amiiin..makasih doanya mba..
tuk ciedo>>>akhirnyaaa, bisa jg ngasih komen cid..
tuk mba Vin>>>khusus mba Vin nih aku pake SB:)
tuk amel>>>ok mel..
Comment dari senaz — September 16, 2006 @ 10:48 am