3 Ramadhan ~ Suasana Sahur
Aku jadi ingat, ketika kecil hal yang paling bikin aku sebal adalah ketika papa dan mamaku membangunkanku pada saat waktu sahur. Uuuh, rasanya sebaaal sekali. Badan masih ingin berebah, mata masih ingin beristirahat setelah hampir seharian terbuka, kaki masih enggan berpisah dengan guling yang selalu setia menemaniku ketika tidur, dan anggota tubuhku yang lain yang ikut-ikutan protes. Semua enggan diajak kompromi. Kalau saja mereka bisa berbicara, mereka akan berkata “ya ampuun, kami masih capek nih!” Tapi tetap saja, meskipun aku susaaah sekali dibangunkan, orangtuaku selalu dengan sabar membangunkanku.
Tak-tik orangtuaku saat itu adalah jika waktu subuh saat itu pukul 5 pagi, maka mereka akan bangun 2 jam sebelumnya. Dan 1 jam pertama dihabiskan untuk membangunkan aku. Tiap 5 menit pasti papaku akan masuk ke kamar, lalu menepuk-nepuk pundakku dengan halus sambil berkata “senaz sayang, bangun dong..kita sahur yuk!”. Berkali-kali beliau mengucapkan kata-kata itu sampai akhirnya terlihat diraut mukaku bahwa aku sudah mulai agak terbangun dari tidur lelapku. Setelah aku berkata “iya-iya, senaz udah bangun nih”, barulah papaku beranjak dari kamarku menuju ke area kecil yang lebih tinggi 60cm dibanding area lain di rumahku dan terletak di ujung kanan rumah kami, dimana biasanya seluruh anggota keluarga yang lain(mama, kakak dan adikku) sudah berkumpul di sana. Kami menyebutnya musholla pendopo. Tapi, seperti aku katakan di awal cerita bahwa aku termasuk anak yang susah sekali bangun pada waktu sahur. Jadi setelah aku berkata bahwa aku sudah bangun, akupun kembali merebahkan diriku ke tempat tidur dan kembali ke alam mimpi. Sekitar 10 menit kemudian, pasti papaku kembali ke kamarku membangunkan aku kembali dengan kata-kata yang sedikit berbeda ditambah dengan kata-kata “nanti ga sempet sahur loh soalnya udah keburu subuh. trus nanti di sekolah kelaperan loh.” Akhirnya akupun terbangun lagi. Dan ketika papaku meninggalkan kamarku, kembali aku merebahkan tubuhku dan tertidur. Dan 10 menit kemudian papaku akan membangunkan aku kembali dengan tangan yang sudah dibasahi air dan ditambah dengan kata-kata bahwa nabi menganjurkan kaumnya untuk bersahur dan apabila sahur mendapat barokah,dll. Sampai kira-kira hampir 1 jam barulah aku benar-benar terbangun dan beranjak dari tempat tidur. Begitulah yang selalu terjadi hampir tiap hari pada bulan puasa. Kadang-kadang acara untuk membangunkanku dikerjakan bergantian antara papa dan mamaku. Aduuuh, kalau mengingat-ingat hal itu mukaku kadang-kadang bisa merah karena malu. Dan aku menjadi semakin sadar, bahwa orang tuaku sangatlah sabar dan mencintaiku. Kalau aku punya anak seperti diriku mungkin tidak akan sesabar mereka. Huh, jadi kepingin menangis.
Setelah agak besaran dikit, justru kegiatan sahur ini yang paling aku sukai. Aku sangat menikmati heningnya suasana pada waktu sahur. Burung-burung di dalam sangkar yang tergantung rapih di sebelah musholla pendopo, yang biasanya berkicau tiap hari, pada waktu subuh membungkamkan paruhnya. Kendaraan roda tiga dan empat yang selalu lalu lalang didepan rumahku, pagi buta itu tidak terlihat. Suara mesin jahit yang biasa terdengar dari workshop jahit mamaku yang terletak tepat di samping rumah, sunyi. Hanya sesekali terdengar suara pentungan hansip yang berbunyi “Sahur..sahur..”. Juga sayup-sayup terdengar lantunan bacaan ayat suci yang berasal dari speaker masjid dekat rumah kami. Aku merasa saat sahur suasananya sangat santai, tidak ada yang tergesa-gesa berangkat ke kantor, sekolah, kuliah,dll. Kami menggunakan kesempatan sahur untuk saling bercerita, berguyon dan sesekali papaku akan bercerita dan menutupnya dengan nasehat-nasehat yang terkandung di dalam cerita itu. Waah, indah sekali suasana sahur. Selain perut tidak kelaparan selama berpuasa, aku pun insyaAllah akan mendapat barakah dengan bersahur. Amin amin ya robbal alamin







