• banner yg ke-4 copy
  • ..potret senaz :: September :: 2006

    September 25, 2006

    3 Ramadhan ~ Suasana Sahur

    Tersimpan di kategori: coretan bulan Ramadhan

    Aku jadi ingat, ketika kecil hal yang paling bikin aku sebal adalah ketika papa dan mamaku membangunkanku pada saat waktu sahur. Uuuh, rasanya sebaaal sekali. Badan masih ingin berebah, mata masih ingin beristirahat setelah hampir seharian terbuka, kaki masih enggan berpisah dengan guling yang selalu setia menemaniku ketika tidur, dan anggota tubuhku yang lain yang ikut-ikutan protes. Semua enggan diajak kompromi. Kalau saja mereka bisa berbicara, mereka akan berkata “ya ampuun, kami masih capek nih!” Tapi tetap saja, meskipun aku susaaah sekali dibangunkan, orangtuaku selalu dengan sabar membangunkanku.

    Tak-tik orangtuaku saat itu adalah jika waktu subuh saat itu pukul 5 pagi, maka mereka akan bangun 2 jam sebelumnya. Dan 1 jam pertama dihabiskan untuk membangunkan aku. Tiap 5 menit pasti papaku akan masuk ke kamar, lalu menepuk-nepuk pundakku dengan halus sambil berkata “senaz sayang, bangun dong..kita sahur yuk!”. Berkali-kali beliau mengucapkan kata-kata itu sampai akhirnya terlihat diraut mukaku bahwa aku sudah mulai agak terbangun dari tidur lelapku. Setelah aku berkata “iya-iya, senaz udah bangun nih”, barulah papaku beranjak dari kamarku menuju ke area kecil yang lebih tinggi 60cm dibanding area lain di rumahku dan terletak di ujung kanan rumah kami, dimana biasanya seluruh anggota keluarga yang lain(mama, kakak dan adikku) sudah berkumpul di sana. Kami menyebutnya musholla pendopo. Tapi, seperti aku katakan di awal cerita bahwa aku termasuk anak yang susah sekali bangun pada waktu sahur. Jadi setelah aku berkata bahwa aku sudah bangun, akupun kembali merebahkan diriku ke tempat tidur dan kembali ke alam mimpi. Sekitar 10 menit kemudian, pasti papaku kembali ke kamarku membangunkan aku kembali dengan kata-kata yang sedikit berbeda ditambah dengan kata-kata “nanti ga sempet sahur loh soalnya udah keburu subuh. trus nanti di sekolah kelaperan loh.” Akhirnya akupun terbangun lagi. Dan ketika papaku meninggalkan kamarku, kembali aku merebahkan tubuhku dan tertidur. Dan 10 menit kemudian papaku akan membangunkan aku kembali dengan tangan yang sudah dibasahi air dan ditambah dengan kata-kata bahwa nabi menganjurkan kaumnya untuk bersahur dan apabila sahur mendapat barokah,dll. Sampai kira-kira hampir 1 jam barulah aku benar-benar terbangun dan beranjak dari tempat tidur. Begitulah yang selalu terjadi hampir tiap hari pada bulan puasa. Kadang-kadang acara untuk membangunkanku dikerjakan bergantian antara papa dan mamaku. Aduuuh, kalau mengingat-ingat hal itu mukaku kadang-kadang bisa merah karena malu. Dan aku menjadi semakin sadar, bahwa orang tuaku sangatlah sabar dan mencintaiku. Kalau aku punya anak seperti diriku mungkin tidak akan sesabar mereka. Huh, jadi kepingin menangis.

    Setelah agak besaran dikit, justru kegiatan sahur ini yang paling aku sukai. Aku sangat menikmati heningnya suasana pada waktu sahur. Burung-burung di dalam sangkar yang tergantung rapih di sebelah musholla pendopo, yang biasanya berkicau tiap hari, pada waktu subuh membungkamkan paruhnya. Kendaraan roda tiga dan empat yang selalu lalu lalang didepan rumahku, pagi buta itu tidak terlihat. Suara mesin jahit yang biasa terdengar dari workshop jahit mamaku yang terletak tepat di samping rumah, sunyi. Hanya sesekali terdengar suara pentungan hansip yang berbunyi “Sahur..sahur..”. Juga sayup-sayup terdengar lantunan bacaan ayat suci yang berasal dari speaker masjid dekat rumah kami. Aku merasa saat sahur suasananya sangat santai, tidak ada yang tergesa-gesa berangkat ke kantor, sekolah, kuliah,dll. Kami menggunakan kesempatan sahur untuk saling bercerita, berguyon dan sesekali papaku akan bercerita dan menutupnya dengan nasehat-nasehat yang terkandung di dalam cerita itu. Waah, indah sekali suasana sahur. Selain perut tidak kelaparan selama berpuasa, aku pun insyaAllah akan mendapat barakah dengan bersahur. Amin amin ya robbal alamin

    September 23, 2006

    1 Ramadhan ~ Niat Rahasiaku

    Tersimpan di kategori: coretan bulan Ramadhan

    Beberapa hari menjelang Ramadhan, awal bulan yang mulia itu belum dapat dipastikan. Malam menjelang 1 Ramadhan, pihak masjid mengumumkan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu dan tentu saja hari ini pertanda bahwa kami(ummat Islam) harus sudah memulai ibadah puasa dan tadi malam sudah bisa dimulai sholat tarawih.

    Tentu saja aku senang sekali bahwa Ramadhan sudah datang. Tapi dibalik rasa senangku itu, ada satu persiapan yang membuat aku deg-degan, takut aku tidak bisa mengerjakannya. Yang kumaksud bukanlah persiapanku secara fisik atau psikis. Kalau fisik, dengan keadaanku yang sedang mengandung ini, ada pengecualian yang diberikan oleh Allah untuk tidak berpuasa. Sedangkan secara psikis, sudah berbulan-bulan yang lalu aku melatih diriku untuk menjalani bulan Ramadhan ini menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi yang aku maksud dengan persiapan itu adalah bagaimana aku berperan sebagai istri yang baik.

    …inilah ibadah nyataku di bulan Ramadhan

    Hampir semua teman-temanku tahu bahwa semasa aku hamil ini, aku tidak terlalu bisa berkutat di dapur. Bukannya aku tidak mau, bahkan sebelum hamil aku adalah orang yang termasuk rajin menyentuh dapur. Tidak heran bila ada yang berkomentar kalau tiap hari suamiku terlihat semakin chubby. Yaa, mungkin karena disebabkan bau bumbu-bumbu yang di dapur itulah maka aku enggan menyentuhkan kaki di daerah paling ujung di rumahku. Sedangkan bagi yang hidup di luar negeri, tentu sudah tahu bahwa untuk makan sehari-hari tidak lah mungkin bila kita(yang tinggal di luar negeri) selalu membeli makanan di luar, alias jajan. Selain mahal, ke halalannya juga perlu dipertanyakan. Lalu, jelas saja tugas memasak adalah kewajiban para istri, karena para suami sudah lelah bekerja dan memang tugas seorang istri untuk melayani suaminya. Kalau di Indonesia, dengan keadaanku seperti ini mungkin penyelesaiannya sangat mudah. Aku bisa mempekerjakan pembantu. Tapi jika hidup di luar negeri, suatu hal yang jarang sekali terjadi bila seseorang mempunyai pembantu, kecuali mungkin orang tersebut mempunyai pendapatan yang cukup besar. Jadi, tugas memasak yang selama ini aku jalani sebelum hamil, semenjak aku hamil diambil alih oleh suamiku dengan ikhlas.

    Namun, sudah dari berminggu-minggu sebelum memasuki bulan Ramadhan ini aku bertekad akan memulai kewajibanku lagi sebagai seorang istri pada bulan Ramadhan. Sengaja aku tidak bilang-bilang ke suamiku tentang niatanku ini. Aku ingin dia surprise. Aku ingin suamiku memakan hasil racikanku pada waktu sahur untuk membekali dirinya selama hampir seharian berpuasa. Aku ingin suamiku melepas dahaganya setelah seharian penuh menahan lapar dan haus dengan merasakan masakanku ketika adzan maghrib berkumandang. Itu tekadku. Karena aku tidak menjalankan ibadah berpuasa, paling tidak itulah ibadah nyata yang akan aku lakukan di bulan Ramadhan, bulan penuh ampunan dan pahala dari Allah.

    Aaah, dalam beberapa jam lagi waktu berbuka akan tiba. Sebaiknya aku mulai beranjak ke dapur jika ingin niatanku ini terlaksana.

    September 19, 2006

    male & female sign???

    Tersimpan di kategori: cerita kehamilan ke-2

    Alhamdulillahirobbil’alamin. Setelah penantian yang (menurutku) cukup panjang, akhirnya hari ini aku bisa tahu jenis kelamin si baby.

    Sudah sekitar 2 bulan aku tidak di USG, jadi USG kali ini benar-benar berkesan buat aku. Selain karena aku melihat perkembangan yang pesat pada besar/ukuran si baby, juga karena aku bisa tahu tubuh si baby secara detail seperti jantung, tulang punggung, kaki, tangan, bibir, hidung, telinga,dll. Tak bosannya aku bertasbih kepada Allah, ketika dokter menjelaskan bahwa tiap-tiap bagian tubuh si baby normal.

    Saat si dokter memeriksa seluruh bagian tubuh si baby, dia bertanya kepada aku dan suamiku apakah kami mau tahu "semuanya" atau tidak. Tentu saja kami berdua langsung menjawab dengan serentak bahwa kami mau tahu "semuanya". Kami mengerti yang dimaksud "semuanya" oleh si dokter adalah jenis kelamin si baby. Ya, memang wajar kalau si dokter bertanya seperti itu karena memang yang aku tahu tidak semua calon orang tua ingin mengetahui jenis kelamin si baby sebelum melahirkan. Bahkan kakakku, yang saat ini mengandung 3 bulan, tidak berkeinginan untuk tahu jenis kelamin anaknya. Begitu juga dengan kedua anaknya terdahulu. Tapi, tidak demikian dengan kami.

    Naaah, dari hasil USG tadi, apa jenis kelamin calon anak kami? Sila liat klip di bawah ini!


    Kurang jelas??? Sila lihat foto di bawah! Mudah-mudahan jelas ya.

    Bagi yang tebakannya betul, selamat yaaa! Bagi yang salah, myth busted!! ^,^

    September 16, 2006

    Kata Teman-teman

    Tersimpan di kategori: cerita kehamilan ke-2

    Jarang keluar rumah. Kalimat itu adalah kata-kata yang tepat untuk mendefinisikan tentang aku selama 4 bulan terakhir. Oleh sebab itu pula, aku hampir tidak pernah bertemu dengan teman-temanku. Tak heran bila beberapa diantara mereka ada yang kaget melihat perkembangan diriku secara fisik :) . Selain pipiku yang gembil, perut pun sudah buncit. Seorang temanku bahkan ada yang tidak percaya bahwa aku saat ini barulah mengandung 4 bulanan. Katanya perutku kelewat besar untuk ukuran wanita hamil usia hampir 5 bulan. Hmm, memang ada standarnya ya? bathinku saat itu. Tapi ya sudahlah, tak usah diambil pusing. Selama dokter tidak komplain dan mengatakan si baby sehat-sehat saja bagiku sudah cukup.

    Lalu ada lagi komentar dari teman-temanku. Kali ini bukan hanya seorang, melainkan 4 orang. Mereka ‘pangling’ melihat aku. Kata mereka wajahku ehem..fresh(sambil batuk-batuk ge er). Aku sih tidak terlalu heran, karena memang semenjak memasuki bulan ke-4 ini jerawatku berkurang meskipun masih ada juga siii :) . Menurut buku kehamilan yang aku baca, trimester kedua ini hormon yang berada di dalam tubuhku sudah mulai stabil, jadilah para jerawat mulai gugur satu per satu. Lalu ke empat temanku itu membuat semacam diagnosa sendiri dengan perubahan fisikku tsb. Mereka mengatakan bahwa si baby pastilah perempuan. Waduh, kok mereka bisa seyakin itu yaa. Aku saja sampai sekarang belum yakin jenis kelamin si baby perempuan atau laki-laki hihihi. Tapi senang juga mendengar tanggapan orang-orang disekitarku. Selain senang tentunya makin membuat aku tambah penasaran dan berakhir menjadi ketidaksabaran untuk mengetahui jenis kelaminnya.

    InsyaAllah, Selasa ini(19 Sept’06) aku ada jadwal untuk bertemu dengan dokter kandunganku. Menurut dokter, aku sudah bisa mengetahui jenis kelamin si baby saat datang nanti. Jadi, mudah-mudahan setelah hari Selasa rasa penasaranku sudah hilang.

    September 14, 2006

    Bertambah Tanda-tanda dari-Mu

    Tersimpan di kategori: cerita kehamilan ke-2

    Baruu saja beberapa hari yang lalu aku mendengar suara detak jantung si baby. Eeeeh, tadi malam aku merasakan tendangannya. Memang sih ini bukan tendangan yang pertama, melainkan yang kedua yang kurasakan. Hanya saja kali ini aku sangat yakin kalau ini memang benar-benar tendang si baby.

    Tendangan pertama, yang kurasakan sangat halus sekali. Untuk merasakannya saja aku harus benar-benar konsentrasi. Aku harus dalam keadaan berbaring dan tidak bergerak-gerak. Begitu juga dengan suara-suara sekitar, harus dalam keadaan sunyi.

    Tendangan kedua(kemarin malam), posisiku antara duduk dan berbaring(mungkin bahasa yang tepat adalah slonjoran). Sebetulkan aku tidak terlalu ‘ngeh’ kalau yang aku rasakan di perutku itu adalah tendangan si baby, karena saat itu aku sedang konsentrasi mengikuti serial CSI di layar TV saat itu. Aku malah berprasangka bahwa yang kualami saat itu adalah kejang di perut laiknya kalau mata kita cedutan. Jadi aku cuek saja. Namun ketika ada iklan aku baru merasakan dan yakin bahwa itu adalah tendangan si baby. Aku sangat yakin karena tendangannya itu konsisten, berselang sekitar 2/3 detik. Tendangannya lebih kuat dibanding tendangan pertama meskipun masih bisa dikategorikan sebagai tendangan halus. Spontan saja ku panggil mas Indra, dengan maksud untuk membagi perasaan excited tsb. Sayang sekali karena masih berupa tendang-tendangan halus mas Indra tidak bisa ikut merasakannya. Tapi dapat kulihat di matanya, kalau ia pun bisa ikut merasakan perasaanku saat itu.

    Alhamdulillah, semakin bertambah usia kandunganku, semakin bertambah pula tanda-tanda yang diberikan Allah kepada kami sebagai calon orang tua dari jabang bayi ini. Meskipun mempunyai anak bukan satu-satunya kebahagiaan yang bisa kita petik selama di dunia ini, namun aku sangatlah bersyukur bahwa Allah memberikan aku kesempatan untuk dapat merasakannya.

    September 12, 2006

    Suara Apa Yang Membuat Anda Bahagia?

    Tersimpan di kategori: cerita kehamilan ke-2

    Semenjak kemarin, aku merasakan perih di perut atas persisnya sih di belakang tulang dada. Panik dan tentu aja deg-degan, karena sampai pagi ini pun sakit tsb masih muncul. Belum lagi ditambah kami belum pernah berpengalaman dalam hal ini.

    Mas Indra langsung browsing internet dan membaca buku pregnancy yang kami miliki untuk mencari tahu segala bentuk penyakit yang berhubungan dengan gejala tersebut. Karena keterbatasan informasi yang didapat, maka mas Indra pun kurang yakin jenis penyakit apa dari rasa sakitku itu. Sempat terpikir oleh kami bahwa rasa sakit itu tidak berbahaya dan tidak perlu dicemaskan. Tapi karena rasa perih itu datang berkali-kali(meskipun tidak konstan/terus-menerus), kami pun menjadi khawatir. Kami tidak mau mengambil resiko dengan bertindak acuh terhadap rasa perih tsb.

    Langsung saja ku telpon RS untuk membuat janji bertemu dengan dokter kandungan. Ku jelaskan situasiku dan alhamdulillah pihak RS langsung menyisipkan aku di jadwal salah satu dokter yang bertugas hari ini dan akupun bisa langsung datang ke RS. Padahal untuk bertemu dengan dokter tidak semudah itu di Belanda. Pasien harus menelpon lebih dahulu dan biasanya akan dijadwalkan 1 minggu setelah itu. Mungkin aku dimasukkan menjadi salah satu pasien darurat, jadinya bisa datang saat itu juga.

    Selama diperjalan menuju ke RS(kami menggunakan bis dan lama perjalanan 30 menit), tidak henti-hentinya aku mengelus-elus perutku berharap bisa merasakan tendangan si baby. Namun aku tidak merasakan apapun dan aku hanya bisa berdoa dalam hati supaya si baby sehat-sehat saja di dalam sana.

    Akhirnya kami sampai di RS. Aku langsung mendaftar ke resepsionis. Tidak lama setelah itu, namaku pun dipanggil oleh suster. Aku agak-agak heran, karena tidak biasanya aku diperiksa hanya dengan suster. Apalagi dengan kondisiku yang merasakan perih seperti ini, aku menginginkan seorang dokter yang akan meriksa diriku, gumamku dalam hati. Ku menoleh kesamping dan kulihat suamiku pun seperti berpikiran yang sama denganku. Benar saja, ketika sudah di ruang dokter si suster pun sepertinya kurang mengerti dengan masalah yang aku utarakan. Tekanan darahku diperiksa dan alhamdulillah hasilnya normal. Kemudian aku disuruh berbaring di tempat tidur yang disediakan dan si suster menekan-nekan perutku. Setelah itu ia mengambil sebuah alat(bentukkan seperti microfone) yang diletakkan di perutku bagian bawah. Tidak lama terdengar suara detak jantung. Aku tahu itu bukan suara detak jantungku, karena frekuensinya sangat cepat(seperti suara kuda berlari). Langsung saja aku bertanya ke suster tsb "Is that the baby?" untuk meyakinkan perkiraanku. "Ja, dat is the baby" kata suster itu dengan logatnya yang bercampur-campur antara Belanda dan Inggris. Aku dan suamiku hanya bisa saling memandang. Betapa bahagianya kami mendengar bunyi itu. Ini pertama kalinya kami berdua mendengar detak jantung si baby. Aku pun langsung terlupa dengan keluhan rasa perihku itu. Lalu suster itu menyuruh kami berdua menunggu, karena dia akan memanggilkan sang dokter. Oooh, ternyata aku akan diperiksa dengan dokter juga tooh, kataku pada mas Indra. Jujur saja, aku sudah tidak terlalu menanti-nanti diagnosa dokter semenjak mendengar detak jantung calon anakku itu. Dan alhamdulillah, diagnosa dokter bahwa perih-perih yang kurasakan hanyalah heart burn dan kata dokter kami berdua tidak perlu cemas akan hal itu. Phuuff, lega sekali aku.

    Penyesalanku cuma satu, bahwa aku maupun suamiku tidak sempat merekam detak jantung si baby; suara yang membuat kami berdua sangat bahagia.

    September 7, 2006

    Make-up = Perempuan?

    Tersimpan di kategori: cerita kehamilan ke-2

    Beberapa hari terakhir aku sering browsing website produsen make-up. Awalnya sih aku tidak berpikiran apa-apa. Cuma mungkin aku merasa bosen dengan kegiatanku di rumah(berhubung belum bisa sering-sering keluar rumah), lalu dari situlah aku mulai melihat-lihat make-up. Padahal di sini juga tidak memungkinkan dan sangat tidak cocok untuk dandan heboh, seperti layaknya di Indonesia kalau ada undangan pernikahan. Karena memang di sini aku tidak pernah mendapat undangan acara formal. Belum lagi tujuan ku pergi keluar rumah hanya berkisar pasar dan supermarket, pun kendaraan yang aku gunakan untuk bepergian sepeda atau bis, bener-bener tidak cocok deh kalo dandan. Jadi asli kerjaanku hanya liat-liat doang, bukan berniat beli secara on-line.

    Tapi ternyata kebiasaanku ini makin menjadi-jadi. Frekuensi ku browsing website make-up semakin sering. Dan aku juga semakin sering menengok alat-alat make-up ku yang tersimpan rapih di laci ku. Aku sengaja membawa alat make-up yang aku punya di Indonesia untuk di bawa ke sini, karena aku kira akan ada undangan-undangan formal seperti di Indonesia.:)

    Apakah ini pertanda jenis kelamin si baby perempuan? Wallahu’alam. Yang jelas sama seperti keinginan mayoritas ibu-ibu hamil lainnya bahwa jenis kelamin si baby tidaklah penting, perempuan atau laki-laki sama saja. Yang penting adalah si baby lahir dengan sehat. Amiiin

    September 4, 2006

    Tentang Jodoh

    Tersimpan di kategori: umum

    Kata orang, jodoh ada di tangan Tuhan. Benar tidak sih? Memang setahuku ketika sebuah telur di dalam rahim bertemu dengan air mani dan terjadi pembuahan, saat itulah Allah memberikan takdir(usia, rezeki, jodoh & keturunan) bagi si calon bayi. (cmiiw)

    Ada seorang temanku yang santai-santai saja dalam menghadapi hidup. Dia tidak tergugah dan tidak tergiur melihat teman-temannya yang lain sudah berkeluarga. "Kan jodoh di tangan Tuhan. Jadi ya ngapain g repot-repot nyari. Nanti juga datang sendiri." Kira-kira begitu yang selalu diungkapkan temanku tersebut bila ditanya seseorang mengapa ia belum mempunyai calon.

    Tapi ada juga seorang teman dari temanku(hmm, mudah-mudahan tidak membingungkan yah) yang berlawanan dengan perilaku temanku sebelumnya. Yaa, sebut saja teman yang kuceritakan awal tadi adalah A dan yang kedua adalah B. Si B ini malah termasuk agresif. Temanku itu sih selalu bilang kalau dia justru sudah dalam tahap desperate, oleh sebab itu dia mulai bertingkah maksa alias agresif. Si B selalu meminta ke teman-temannya untuk dikenalkan dengan seseorang. Bahkan setiap mereka berkumpul, pasti si B langsung mendominasi pembicaraan dengan meminta teman-temannya membantu mencarikan jodoh untuk dia. Si B percaya bahwa segala sesuatu bisa didapat dengan berusaha. Tapiii, apa musti dengan cara seperti itu? Sampai-sampai selalu dia mengorbankan waktu luang teman-temannya itu hanya untuk mendengarkan dan membantu permasalahan dia. Kok terkesan egois yah.

    Si A & B memang dua orang yang berbeda. Mereka berdua menginginkan hasil akhir yang sama dengan cara yang berbeda. Kira-kira,cara siapa ya yang paling benar?

    Bagi aku sendiri, keduanya masih mempunyai kekurangan masing-masing. Si A terlalu pasrah dan si B terlalu terpaku pada usaha. Seyogyanya memang sebagai seorang muslim kita harus berdoa dan berusaha. Si A akan maksimal dalam menggapai tujuannya bila diiringi dengan usaha. Secara rasio, kemungkinan si A akan bertemu dengan jodohnya sangat kecil bila ia hanya mengharap segala sesuatunya datang kepada dia. Dan Allah juga menyukai hambanya yang berusaha, bukan?. Begitu juga dengan Si B, ia akan lebih berhasil bertemu jodoh bila dia tidak terlalu menggebu-gebu dalam berusaha. Si B harus sadar, bahwa setelah berusaha dia harus pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Jadi tidak akan ada kata-kata desperate yang disandang olehnya.

    Kok tiba-tiba aku membahas tentang jodoh sih? Jadiii, hari ini aku bersama temanku(mba nisa) sedang berusaha mengenalkan seorang pria(teman mba nisa) dengan teman wanitaku. Kedua-duanya menurut aku bukan termasuk profil si A ataupun si B. Aku memang bukan Tuhan yang bisa memberikan jodoh kepada hamba-Nya. Tapi siapa tahu, ternyata aku termasuk salah satu alat yang digunakan oleh Allah untuk mempertemukan dua  sejoli ini.:)